Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief menyatakan pihaknya tetap menuntut media-media di Indonesia yang kadung menulis pemberitaan Asia Sentinel itu untuk membuat klarifikasi. Tak hanya itu, Andi menyatakan akan memberikan nama-nama yang membuat pemberitaan Asia Sentinel itu muncul kepada Kepala Staf Kepresidenan (KSP) RI Moeldoko.
"Nama-nama yang ikut terlibat dalam menyebar fitnah lewat Asia Sentinel yang menyangkut chamber sekitar Istana akan kami berikan ke Pak Moeldoko. Termasuk penjelasan John Berthelsen dan Lin Neuman plus hasil investigasi," demikian pernyataan Andi yang ia kicaukan lewat akun Twitternya, Kamis (20/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam akun Twitter-nya, Andi Arief menyatakan kasus Century tak pernah mengaitkan Ketua Umum Partai Demokrat yang juga mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dan, Andi Arief pun mengancam akan menempuh jalur hukum jika masih ada yang mencoba mengait-kaitkan kasus Century itu ke SBY maupun Demokrat.
"Soal century secara politik sudah diangkat pansus DPR, pengadilan tipikor, pengadilan umum, arbitrase internasional. Semua vonis menyebut tidak ada aliran ke SBY dan Partai Demokrat. Jika masih ada yang asbun seperti Misbakhun, ini peringatan terakhir untuk selanjutnya menempuh hukum," kicau Andi.
[Gambas:Twitter]
Tuntutan Kepada Media Massa di Indonesia
Setelah muncul permintaan maaf Asia Sentinel tersebut, Andi Arief pun meminta kepada media-media massa di Indonesia yang memuat laporan Asia Sentinel untuk melakukan hal serupa.
"Apresiasi juga buat jpnn.com yang sudah meminta maaf dengan klarifikasi berita, media ini yang pertama memuat utuh tulisan Asia Sentinel tanpa cross check. Saya tidak tahu apakah beritasatu.com, Suara Pembaruan, dan Metro TV akan lakukan hal sama," demikian kicau Andi.
[Gambas:Twitter]
"Tirto.id harus buat klarifikasi juga, Gak boleh masuk dalam skandal ini," sambung Andi dalam kicauannya yang lain menjawab kicauan twitter Wasekjen Demokrat lainnya, Rachland Nasidik.