Moeldoko menyampaikan itu atas dasar beberapa pertimbangan salah satunya adalah faktor cuaca dan hama, meski kini Kementerian Pertanian telah menggenjot produksi beras.
"Sekarang kita mengenal tidak ada hari tanpa panen. Itu terus berjalan. Tapi sekali lagi faktor cuaca dan hama sangat mempengaruhi produktivitas. Sehingga memang masih memerlukan impor," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (20/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga secara logika itu memang ada kebutuhan beras nasional yang tidak bisa diproduksi sepenuhnya oleh kita," tutur mantan Panglima TNI ini.
"Kalau impor saat petani panen saya selaku Ketua HKTI juga marah dong. Saya memperjuangkan petani saya," ucapnya.
Moeldoko berpendapat penuhnya gudang Bulog saat ini disebabkan hasil panen petani serta masuknya impor beras beberapa waktu lalu.
Namun, ia mengingatkan Bulog bertugas menyeimbangkan harga di pasar. Sehingga, beras yang ada sekarang bisa disebar ketika harga mulai melonjak dan dikendalikan pasar.
"Jadi tidak statis. Kalau Pak Buwas mengatakan sekarang penuh, mungkin minggu depan atau dua minggu lagi berkurang karena kebutuhan memenuhi pasar. Ini masalah komunikasi," kata Moeldoko.
Hal ini berbeda dengan keputusan Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang sudah memberi izin impor beras 2 juta ton sampai akhir tahun, di mana sekitar 1,4 juta tonnya sudah direalisasikan dan masuk ke dalam stok Bulog. (chri/osc)