Ma'ruf Amin resmi mengundurkan diri dari posisi Rais Aam PBNU karena maju sebagai calon wakil presiden di pilpres 2019.
Atas sikap tersebut, Mustasyar PBNU Maimoen Zubair mengatakan telah menemui Miftahul Akhyar sebanyak dua kali untuk memohon agar bersedia menduduki posisi Rais Aam PBNU.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Ma'ruf Amin Resmi Mundur dari Rais Aam PBNU |
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang itu mengaku mendukung keputusan Ma'ruf mengundurkan diri dari posisinya sebagai Rais Aam dan digantikan dengan wakilnya, Miftahul.
Selain itu, mantan anggota MRR RI utusan Jawa Tengah tiga periode itu juga mengaku kecewa karena tidak bisa hadir dalam rapat pleno PBNU yang digelar pada Sabtu (22/9) di Gedung PBNU, Jakarta karena kondiai tubuhnya yang kurang sehat.
"Dalam hal ini saya merasa kecewa terhadap diri saya sendiri tidak bisa menghadiri Rapat Pleno PBNU karena faktor kesehatan. Sakit saya diabet melonjak tinggi sehingga tidak bisa menghadiri acara pada hari ini," terangnya.
Maimoen Zubair kirimkan surat atas mundurnya Ma'ruf Amin jadi Rais Aam PBNU. Dok. Istimewa |
Sebelumnya, Ma'ruf mengatakan ia harus mundur sebagai Rais Aam PBNU sebagai konsekuensi memutuskan maju sebagai cawapres Joko Widodo di pilpres 2019 dan sebagaimana diatur dalam AD/ART NU.
"Setelah resmi dinyatakan sebagai cawapres, terhitung mulai hari ini saya mengundurkan diri sebagai Rais Aam," ujar Ma'ruf dalam surat yang diterima CNNIndonesia.com, Sabtu (22/9).
Ketua PBNU bidang Hukum PBNU Robikin Emhas mengaku untuk pertama kalinya KH Miftahul Akhyar memimpin Rapat Pleno mundurnya Ma'ruf Amin dalam khidmah sebagai Pejabat Rais 'Aam PBNU.
Menurut Robikin, setelah melepas jabatan sebagai Rais Aam PBNU, Rapat Pleno PBNU menetapkan Ma'ruf Amin sebagai Mustasyar PBNU masa khidmat 2015-2020.
"Keputusan itu berlaku efektif sejak hari ini," pungkas Robikin kepada CNNIndonesia.com.
Maimoen Zubair kirimkan surat atas mundurnya Ma'ruf Amin jadi Rais Aam PBNU. Dok. Istimewa