Dalam survei ini, soal citra religius atau taat beragama, Prabowo hanya memperoleh 58 persen suara responden, sementara Jokowi menperoleh 76 persen suara responden.
"Banyak orang (responden) yang mengatakan Pak Jokowi dianggap lebih religius dibanding Pak Prabowo," terang Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi di kantornya, Jakarta, Rabu (26/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, untuk kategori citra diri lainnya seperti perhatian pada rakyat, jujur, mampu mengatasi masalah bangsa, mampu memimpin Indonesia dan religius atau taat beragama Jokowi jauh lebih unggul di atas Prabowo. Rata-rata suara Prabowo terpaut 18 sanpai 30 persen dari Jokowi.
Kemudian, saat responden ditanya suka atau tidak dengan kedua nama itu, 88 persen responden menjawab suka terhadap Jokowi. Sementara 75 persen responden yang mengaku suka terhadap Prabowo.
"Hampir semua pemilih kenal Jokowi dan juga Prabowo. Jokowi lebih disukai ketimbang Prabowo, dan pemilih yang eksplisit menyatakan tidak suka terhadap Prabowo hampir dua kali lipat," terang Burhanudin.
Sandi Lebih Terkenal dari Ma'ruf
Hasil lain terlihat saat responden dihadapkan kepada cawapres pendamping Jokowi dan Prabowo. Pemilih, kata Burhan, lebih mengenal Sandiaga Uno ketimbang Ma'ruf Amin.
"KH Ma'ruf Amin dikenal sekitar 70 persen pemilih, Sandiaga 73 persen. Kesukaan pemilih terhadap kedua nama itu juga imbang dengan perolehan masing-masing 76 persen," terang Burhanuddin.
Dari citra diri cawapres, Ma'ruf hanya unggul dua kategori dari Sandi, yakni religius atau taat beragama dan kategori jujur, bisa dipercaya dan bersih dari korupsi.
"Sementara pada citra personal cawapres, Sandiaga Uno lebih positif pada sejumlah aspek dibanding Ma'ruf Amin," terangnya.
Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan margun of error +- 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Responden diwawamcarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.
Paslon nomor urut 2, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (CNN Indonesia/Fajrian). |
Sementara itu, sebanyak 39 persen pemilih Partai Demokrat mengaku tidak tahu bahwa partainya mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Jumlah tersebut hanya terpaut dua persen dibandingkan dengan persentase pemilih Demokrat yang mengetahui kalau partainya merupakan pendukung pasangan calon nomor urut 02 itu.
"Pemilih Demokrat yang tidak mengetahui partainya mendukung Prabowo-Sandiaga itu ada 39 persen," kata Burhan.
Terlebih, ada sekotar 21 persen pemilih Demokrat yang mengira partainya mendukung Jokowi-Ma'ruf.
"Bahkan, ada pemilih Demokrat yang bilang bahwa partainya mendukung Jokowi-Ma'ruf itu 21 persen. Pemilih Demokrat yang tahu bahwa elite partainya mendukung Prabowo-Sandiaga itu baru 41 persen," terang Burhanuddin.
Secara keseluruhan, 70 persen pemilih partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur sadar bahwa partai pilihannya adalah pendukung Prabowo-Sandiaga.
Sementara itu di partai pendukung Jokowi-Ma'ruf pemilih partai Hanura, Golkar, PPP, dan PKB mengalami problem sama dengan Demokrat. Pemilih keempat partai itu banyak yang tidak mengetahui bahwa partsinya mengusung pasangan Jokowi-Ma'ruf.
Sebanyak 45 persen pemilih Golkar, 47 persen pemilih PPP, 42 persen pemilih PKB dan 30 persen pemilih Hanura tidak tahu partainya merupakan pendukung Jokowi-Ma'ruf. Bahkan jumlah pemilih Golkar dan PPP yang sadar bahwa partainya mengusung Jokowi-Ma'ruf lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak tahu.
"Bisa jadi elite partai mereka belum mensosialisasikan hingga ke bawah. Yang aneh ini PKB yang tidak tahu bahwa partainya mendukung Jokowi-Ma'ruf, yang basis masanya solid baru pemilih PDIP dan Partai NasDem," kata dia. (osc/osc/osc/sah)
Paslon nomor urut 2, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (CNN Indonesia/Fajrian).