Diketahui, Joko Widodo menggandeng Ma'ruf Amin yang notabene Ketua Majelis Ulama Indonesia (MU) dan baru saja mundur dari jabatan Rais Aam PBNU. Sementara pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno didukung penuh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama dengan sederet ormas Islam lain, salah satunya Front Pembela Islam (FPI).
Fadli mengatakan, dilihat dari sisi positif, kampanye akan lebih tenang dan jauh dari isu-isu SARA. Hal itu, lanjut Fadli, dapat terwujud apabila kedua kubu tidak membangun narasi kampanye yang mempolitisasi isu-isu SARA dan memberikan narasi yang menyejukan kepada para calon pemilih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fadli melanjutkan, apabila dilihat dari sisi negatif, dukungan tokoh agama di kedua kubu dapat berpotensi menimbulkan friksi yang lebih luas dan berpotensi menimbulkan konflik horizontal antara kedua pendukung.
"Kalau positif akan hasilkan konten kampanye yang baik bagi masyarakat, tapi kalau politisasi SARA yang menguat tentu saja keterlibatan tokoh agama akan membangunkan poyensi friksi di pengikut dan jamaah masing-masing tokoh agama," ujar Fadli. (osc/sah)