Kisah Heroik Gunawan Agung di Bandara saat Gempa Palu

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 29/09/2018 15:58 WIB
Kisah Heroik Gunawan Agung di Bandara saat Gempa Palu Ilustrasi Bandara Mutiara pasca-gempa. (ANTARA FOTO/Rolex Malaha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sore itu, Jumat (28/9), seorang petugas navigasi Anthonius Gunawan Agung bersiap mengawal penerbangan maskapai Batik Air 6231 yang akan lepas landas dari Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Palu, menuju Bandara Internasional Hasanuddin, Makassar.

Beberapa saat setelah Agung memberi izin terbang kepada pesawat tersebut, terjadi gempa bumi yang sangat kuat. Namun, ia memilih untuk menunaikan tugasnya mengawal pesawat hingga lepas landas.

"Personel AirNav lainnya yang tidak sedang melayani kemudian turun saat gempa terjadi. Beliau belum dapat turun karena pesawat belum take off. Beliau menunggu pesawat batik hingga airborne (lepas landas)," kata Manager Humas AirNav Indonesia, Yohanes Sirait, kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (29/8).
Agung menjalankan tugasnya hingga ban pesawat tak lagi menyentuh daratan Palu. Pesawat itu pun selamat dari gempa dan tsunami yang menerjang Palu.


Gempa semakin kuat, Agung yang sudah menyelesaikan tugas langsung mencari jalan keluar.

Agung pun memutuskan untuk lompat dari lantai 4 Tower Bandara Mutiara. Agung mengalami patah kaki karena lompat dari ketinggian.



Rekan Agung yang sudah turun lebih dulu lalu menolongnya. Agung dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun kondisi Agung membutuhkan penanganan di rumah sakit yang lebih besar.

AirNav memutuskan untuk membawa Agung dengan helikopter. Namun, kondisi membuat penerbangan baru bisa dilakukan Sabtu (29/9).

"Beliau kemudian dibawa ke bandara untuk diterbangkan dengan helikopter menuju Balikpapan. Namun sebelum helikopter tiba, almarhum Agung mengembuskan nafas terakhirnya," tutur Yohanes.
AirNav pun bakal menerbangkan jenazah Agung ke Makassar lalu ke Abepura, Papua, tempat tinggal keluarganya.

"Almarhum Agung telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam memberikan pelayanan untuk mewujudkan keselamatan penerbangan," kata Yohanes.

Sebelumnya, gempa berkekuatan 6 skala Richter mengguncang Donggala pada 14.00 WIB. Gempa susulan yang lebih besar dengan kekuatan 7,4 SR kemudian mengguncang Donggala memicu tsunami di Palu.

BNPB mencatat hingga saat ini sudah ada 384 orang meninggal dunia di Palu. Untuk di Donggala, BNPB belum bisa memberi data termutakhir karena akses yang masih sulit. (dhf/has)