Ia pun mengenang kebersamaannya rivalnya di Pemilu Presiden 2019, Jusuf Kalla, saat menangani bencana jebolnya Situ Gintung, Tangerang, 2009.
Diketahui, Sulawesi Tengah, terutama Kota Palu dan Donggala, dihantam gempa dengan magnitudo 7,4 serta tsunami, Jumat (28/9). Hingga Minggu (30/9), jumlah korban tewas mencapai 832 orang. Warga yang bertahan kini disebut kesulitan mendapatkan bantuan logistik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam keadaan seperti ini saya berpendapat dan menyarankan agar untuk sementara waktu, paling tidak untuk Sulawesi Tengah, Palu, Donggala, dan sekitarnya itu, kegiatan kampanye pemilu dihentikan," ujar dia, dikutip dari akun Twitter pribadinya, Senin (1/10) pagi.
"Saya kira saatnya menunjukkan solidaritas untuk saudara-saudara kita yang mengalami musibah, dan sekaligus untuk membantu pemerintah untuk mengatasi bencana, baik saar fase tanggap darurat dan rehabilitasi, rekonstruksi," SBY menambahkan.
"Saya punya kenangan indah di Pilpres 2009. Saat hari kampanye, saya sebagai capres, punya jadwal kampanye, Wapres Jusuf Kalla juga berkampanye," kisahnya.
"Ketika kami dengar musibah bendungan Situ Gintung, JK dan saya langung hentikan kampanye, kami bergandengan tangan menuju ke daerah bencana dan bersama-sama untuk mengatasinya," dia menambahkan.
Suasana bibir pantai yang rata usai diterjang tsunami di wilayah Talise, Palu Barat, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja) |
"GAM dan TNI berhenti melaksanakan oeprasi militer dan bersama mengatasi keadaan, menyelamatkan saudara-saudara yang masih bisa diselamatkan dan melakukan tanggap darurat," ucap SBY.
SBY pun menyebut upaya Presiden Joko Widodo yang mengunjungi wilayah bencana, Palu, pada Minggu (30/9), sebagai hal yang tepat.
Suasana bibir pantai yang rata usai diterjang tsunami di wilayah Talise, Palu Barat, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9). (