"Kalau untuk sementara [laporan] korban tidak ada, tapi ada keretakan-keretakan dari beberapa bangunan, [misalnya laporan kerusakan gedung] SMA Negeri Hahar yang sudah masuk," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumba Timur Martina Djera, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (2/10).
Gempa menurutnya menimbulkan kepanikan dari warga dan para siswa saat gempa itu terjadi. Masyarakat pun, katanya, berhamburan keluar rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, pihaknya belum menerima laporan dari daerah selatan Sumba Timur. Sebab, ada kesulitan jaringan komunikasi. Padahal, katanya, daerah itu termasuk salah satu yang rawan.
[Gambas:Twitter]
"Wilayah selatan yang perlu kamu warning," ujar Martina. "Tapi kami sudah siap untuk kemungkinan [tsunami]," ia menambahkan.
Terpisah, Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, menambahgkan bahwa gempa dirasakan kuat selama 3-5 detik.
"Masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah dan bangunan. Siswa SD panik dan menangis, para guru meminta orang tua siswa untuk menjemputnya," katanya melalui pesan singkat.
Sebelumnya, BMKG melaporkan bahwa Sumba Timur diguncang gempa dengan magnitudo 6,3 dan 6, Selasa (2/10) pagi. Kedua gempa itu disebut tak berpotensi tsunami.
Gempa dirasakan cukup kuat dengan skala MMI IV di Waingapu, skala IV di Tambolaka, III di Bima, dan III di Dompu.
(arh/sur)