Dwikorita mengatakan peringatan dini dimulai pukul 18.07 Wita. Tsunami diprediksi terjadi pukul 18.10 Wita saat langit masih cerah.
Peringatan dini akhirnya diakhiri 30 menit kemudian atau 18.37 Wita. Menurutnya, langkah yang dilakukan BMKG sudah tepat dan hal itu disebut bukan merupakan pencabutan peringatan dini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata Dwikorita, 10 menit sebelumnya atau pukul 18.27 Wita, pihaknya mendapat laporan dari staf BMKG yang berada di Pelabuhan Pantoloan bahwa tinggi air sudah surut di angka 30 cm.
Menurutnya, jika saat itu kembali terjadi tsunami susulan maka staf BMKG yang memantau kondisi di lapangan sudah terseret gelombang. Namun, hal itu tidak terjadi.
Lebih lanjut, Dwikorita mengatakan berdasarkan pemodelan matematis dengan machine learning, BMKG memprediksi ketinggian tsunami mencapai 3 meter.
"Peringatan diakhiri 18.37 WITA. Jadi itu lah yang seoptimal mungkin kami upayakan untuk menyelamatkan jiwa dengan berbagai keterbatasan yang ada," ucap Dwikorita.
Menolak Mundur
Dalam rapat dengan Komisi V DPR, Dwikorita sempat diminta mundur dari jabatan Kepala BMKG usai dicecar atas bias informasi mengenai pengakhiran peringatan dini tersebut.
Sebab di publik muncul spekulasi ada pencabutan peringatan dini sebelum tsunami terjadi. Hal itu salah satunya disampaikan Wakil Ketua Komisi V DPR Lasarus.
"Mungkin kalau di luar sana, orang kalau di posisi ibu sudah mundur kali. Betul itu. Berapa orang mati lho, ini serius. Kami berusaha memahami kendala BMKG, sebagai mitra kami juga bertanggung jawab terhadap keluhan BMKG seperti soal anggaran yang menurun," kata Lasarus saat rapat Komisi V DPR dengan BMKG dan BNPP.
Menjawab itu, Dwikorita menyatakan BMKG bakal melakukan evaluasi. Dwikorita juga meminta maaf dan merasa bersalah. Meski demikian dia menolak mundur.
"Kami mohon maaf sekali. Rasa bersalah iya. Tapi kalau saya ingin mundur, saya sejak Desember ingin mundur," kata Dwikorita menjawab tuntutan dirinya mundur.
"Tapi kalau saya mundur ini pengecut namanya, tidak berani menghadapi persoalan yang belum tuntas," kata mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
Lihat juga:BMKG: Buoy Bukan Peringatan Dini Tsunami |