Khatib berpakaian serba putih berdiri, menyampaikan khotbah yang mengangkat topik hari akhir dan kematian. "Kita harus bersyukur karena kita diberi nikmat keselamatan dan kesehatan. Akhirnya kita bisa bertemu untuk melaksanakan ibadah wajib saat ini," kata khatib.
Salat kemudian ditutup pembacaan ayat kursi, zikir dan doa bersama. Warga pulang setelah saling bersalaman. Salah seorang warga, Herman Djamalo, mengaku bersyukur dapat kembali menunaikan ibadah Salat Jumat setelah bencana gempa dan tsunami melanda Sulawesi Tengah pekan lalu.
Salat Jumat di Palu (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon) |
Dalam Salat Jumat kali ini, dia menyampaikan doa khusus. Herman memohon Tuhan meringankan beban seluruh beban yang dialami masyarakat Sulawesi Tengah dan lokasi terdampak dapat segera pulih kembali. "Intinya kami meminta diringankan beban masyarakat Palu, kami menerima cobaan ini sekiranya cepat, pemerintah gerak cepat sehingga listrik dan air bisa jalan normal kembali," ujarnya.
Gempa dan tsunami melanda tiga wilayah di Sulawesi Tengah yakni Palu, Sigi, dan Donggala pada Jumat (28/9). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga hari Kamis (4/10) pukul 13.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami Sulawesi Tengah mencapai 1.424 jiwa.
Kepala Pusat Data BNPB Sutopo Purwo Nugroho merinci korban meninggal dunia di Donggala mencapai 144 jiwa, Kota Palu 1203 jiwa, Sigi 64 jiwa, Pari Gemutong 12 dan Pasang Kayu (Sulawesi Barat) 1 orang. Sutopo memastikan 1.407 korban jiwa sudah dimakamkan secara massal. "1.407 sudah dimakamankan. Sebagian besar di TPU Paboya," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salat Jumat di Palu (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)