Ditemui usai Salat Jumat pertama kali sejak bencana berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) menghantam Sulteng, Idris yakin bencana tersebut merupakan teguran dari Allah atas berbagai kemaksiatan yang terjadi.
"Sudahlah, setop penyalahgunaan narkoba yang kini marak, berbagai maksiat lainnya. Bencana ini seharusnya sudah cukup bagi umat untuk introspeksi, segera kembali ke jalan Allah," katanya seperti dilaporkan Antara, Jumat (5/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kembali ke jalan Allah," katanya berulang-ulang.
Ia juga meminta sesama pemuka agama untuk tak henti-hentinya memberikan tausyiah atau nasihat kepada umatnya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Sementara itu, suasana haru tampak pada diri para jemaah Salat Jumat di masjid itu. Tak sedikit jemaah menangis saat mendengarkan khutbah dan doa seusai Saalat Jumat. Masjid itu juga rusak di berbagai bagian di plafon dan dinding-dinding pilar.
Gempa dan Tsunami menerjang Palu, Jumat (28/9). (Dok. Puspen TNI) |
Menurut Idris, di masjid itu sudah beberapa kali ada kegiatan memandikan dan menyalatkan bagi jenazah korban gempa sebelum dikuburkan.
"Perkiraan kami, sekitar lima tahun terakhir," kata Andjar seperti dilaporan Antara pada (8/12) lalu.
Menurut Andjar, para bandar narkoba melihat potensi semakin banyaknya pengguna narkoba di Palu yang diimbangi dengan banyaknya permintaan barang haram tersebut.
"Buktinya, dalam setahun terakhir, penyelundupan kilo-an gram narkoba ke Palu digagalkan aparat penegak hukum," ungkapnya.
Menurut Andjar, tertariknya para bandar menjadikan Palu sebagai pasar karena narkoba bisa didapatkan dengan cukup murah, jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. (dal)
Gempa dan Tsunami menerjang Palu, Jumat (28/9). (Dok. Puspen TNI)