Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan setiap proses memiliki faktor keberuntungan dalam menyelidiki. Termasuk dalam menyelidiki kasus Ratna atau Novel Baswedan.
"Jadi begini, dalam satu proses penyidikan itu banyak faktor yg mempengaruhi. Salah satunya saja, faktor keberuntungan," kata Setyo di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (5/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Setumpuk Kasus yang Mangkrak di Era Tito |
"Nah ternyata begitu kita cek di lapangan, semuanya tidak ada yang mendukung apa yang beredar di media sosial, semuanya bertolak belakang," kata Setyo.
"Sehingga yang didapat adalah fakta yang sekarang. Jadi semua memang bekerja," kata Setyo.
Polisi tak kunjung menemukan pelaku penyiram air keras terhadap Novel Baswedan. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Setyo juga menegaskan bahwa polisi tidak pilah pilih kasus dan netral dalam mengusut setiap masalah. Namun, Setyo tidak menampik bahwa pengusutan berlangsung karena menyangkut tokoh politik.
"Nah itu dia (tokoh politik). Tapi saya nyatakan di sini bahwa polisi netral. Sekali lagi polisi netral," ujar Setyo.
Sebelumnya Fadli Zon meminta polisi tidak berlebihan dalam menangani kasus kebohongan Ratna. Pemanggilan tokoh politik Amien Rias pun dianggap Fadli terlalu berlebihan.
"Dan Polisi juga jangan berlebihan di dalam menanggapi ini. Belum apa-apa sudah saya dengar beritanya mau memanggil Amien Rais mau apa? Mau mempermalukan Amien Rais?" kata Fadli.
Bahkan Fadli membandingkan kasus Ratna dan kasus Novel yang kini masih jalan di tempat. Fadli mengatakan banyak kasus yang sudah dilaporkan ke polisi namun hasilnya masih nihil.
"Kenapa kasus Novel Baswedan tidak ada, sudah ada Instruksi Presiden, kenapa tidak ada? Kenapa kasus Hermansyah dan lain-lainnya tidak ada? Ini loh yang menjadi sebuah tanda tanya besar tapi kalau misalnya satu frame hoaks dagelan kayak gitu dilakukan di banyak zaman itu banyak," ucapnya.
Polisi tak kunjung menemukan pelaku penyiram air keras terhadap Novel Baswedan. (CNN Indonesia/Hesti Rika)