Menurut Sugito, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Oman tidak mengeluarkan visa kepada rombongan mahasiswi Indonesia itu saat akan berangkat ke Yaman untuk studi.
"Jadi yang visanya tidak keluar itu bukan putrinya Habib Rizieq saja, tapi ada 150 lebih mahasiswa Indonesia," kata Sugito kepada CNNIndonesia.com, Senin (8/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Ketua Front Mahasiswa Islam FPI Ali Alatas menjelaskan usai eskalasi konflik dan perang di Yaman meningkat, para pelajar Indonesia harus melewati perbatasan Oman-Yaman agar bisa masuk ke kota pelajar di Yaman yang bernama Hadhramaut.
"Baru-baru ini ada aturan baru dari Oman bahwa setiap pelajar Indonesia yang ingin memasuki Yaman harus dibekali pengantar dari KBRI," kata Ali kepada CNNIndonesia.com, Senin (8/10).
Lihat juga:Dubes Saudi Bantah Cekal Rizieq Shihab |
"Semoga kemenlu kita doakan bisa memberikan jalan keluar yang terbaik," kata Ali.
Ali memastikan Hadramut adalah wilayah yang sangat aman, jauh dari konflik. Banyak negara lain yang sudah lebih cepat, seperti Malaysia dan Thailand yang telah menyelesaikan persoalan administrasi di wilayah Oman-Yaman sehingga pelajar yang berasal dari kedua negaranya bisa masuk Hadramaut.
"Tinggal pelajar Indonesia yang tertahan karena masalah administrasi. Mereka menunggu kepastian diberikannya surat rekomendasi dari KBRI," kata Ali.
Putri Rizieq Shihab tertahan di perbatasan Yaman-Oman. (REUTERS/Darren Whiteside) |
Kebingungan para pelajar Indonesia di Oman sudah berlangsung beberapa waktu lamanya. Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman mengungkap sudah empat hari sebanyak 160 pelajar tak bisa kembali ke Yaman. Sementara itu menurut PPI, keseluruhan pelajar termasuk putri Rizieq tertahan di Oman selama tiga pekan yang jumlahnya lebih dari 200 orang.
"Tiga minggu berlalu, kasus tertahannya para pelajar di perbatasan Oman semakin bertambah dan tanpa solusi. Para pelajar aktif yang kembali dari liburan kebingungan melihat fakta mereka tidak diperbolehkan kembali melintasi perbatasan Oman meskipun memiliki visa," ujar Ketua PPI Yaman Izzudin Mufian Munawwar, melalui keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com pada Senin (8/10).
Para menilai KBRI Yaman sebagai pihak yang ditugaskan untuk melayani WNI malah mengabaikan tanggung jawab mereka. Mereka membandingkan kedutaan dari negara-negara lain yang tanggap dalam menyelesaikan kasus ini.
"Mengherankan sekali melihat sekelompok orang yang diutus dan difasilitasi oleh negara dengan uang rakyat berpangku tangan mengabaikan nasib rakyat Indonesia dan tidak mampu membela harga diri WNI di luar negeri," lanjutnya.
Sebanyak 95 persen pelajar Indonesia aman dan bebas belajar melaksanakan kegiatan mereka, termasuk mengadakan upacara bendera saat hari kemerdekaan setiap tahun.
"Melihat fakta dan realita yang ada di lapangan, kami PPI Yaman menghimbau kepada pemerintah dan pihak-pihak yang terkait agar meninjau kembali kinerja Kedubes Indonesia yang berada di Salalah-Oman," ujarnya.
Putri Rizieq Shihab tertahan di perbatasan Yaman-Oman. (REUTERS/Darren Whiteside)