Sandi takut jika dirinya menjenguk Ratna, maka hal itu akan dipolitisasi dan akan semakin membebani Ratna Sarumpaet.
"Saya sampaikan biar pihak kepolisian yang menangani. Menjenguk itu pasti dipolitisasi, pasti akan menambah beban (ke Ratna)," kata Sandi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (8/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dan Pak Prabowo memutuskan tidak menambah beban Bu Ratna, sekarang ini beliau sudah di tahan dan jadi tersangka," katanya.
Sandi enggan berkomentar. Alasannya segala urusan Partai Gerindra sudah bukan tanggung jawabnya lagi. Mengingat dia sudah keluar dari Partai Gerindra.
"Saya sudah bukan orang partai, enggak bisa komentar yah. Yang jelas saya tidak mau tambah beban bu Ratna," kata Sandi.
Ratna Sarumpaet resmi ditahan di Mapolda Metro Jaya sejak Jumat (5/10) malam. Sebagai tersangka dugaan penyebar hoaks soal penganiayaan, dia dijerat dengan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 jo Pasal 45 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Usai menangkap Ratna, polisi menggeledah rumahnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Dari rumah tersebut, polisi menyita telepon selular, laptop, kartu ATM dan buku tabungan.
Ratna Sarumpaet. (ANTARA FOTO/Reno Esnir). |
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto enggan berkomentar soal kemungkinan Ratna menjadi tahanan kota. Menurutnya, penentuan status tersebut merupakan kewenangan penyidik Kepolisian.
Hal ini terkait dengan permohonan kuasa hukum Ratna agar kliennya jadi tahanan kota dengan jaminan tak akan melarikan diri dan merusak barang bukti.
"Itu merupakan ranah hukum ya. Kami tidak ikut campuri masalah tersebut," ujar Hasto di Kanto DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta, Senin (8/10).
Ia hanya berkata pemimpin harus melakukan kroscek atas sebuah informasi sebelum meresponsnya.
"Yang namanya pemimpin tidak boleh grusak-grusuk, tidak boleh cepat merespon, tidak boleh telinganya tipis, tidak boleh emosional. Apa yang harus disampaikan harus diendapkan terlebih dahulu. Karena mulutmu adalah harimaumu," ujarnya.
Di sisi lain, Hasto enggan berkomentar apakah kasus kebohongan Ratna menguntungkan kubu Prabowo Subianto-Sandaiaga Uno atau Joko Widodo-Maruf Amin di Pilpres 2019. Ia hanya berkata keuntungan elektoral hanya bisa dicapai lewat kerja keras, bukan melalui sebuah kebohongan.
"Mana ada kebohongan menimbulkan keuntungan politik, tidak ada. Keuntungan politik itu tercapai melalui kerja keras," ujar Hasto. (tst/osc/jps)
Ratna Sarumpaet. (ANTARA FOTO/Reno Esnir).