Uang sogokan pun diduga terpaksa dikeluarkan agar bisa masuk Yaman.
Diketahui, Kesultanan Oman melarang warga negara asing masuk ke Yaman melalui wilayah perbatasan Oman-Yaman, sejak Mei, karena konflik politik di negara itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sama sekali tidak ada sosialisasi KBRI terhadap peraturan ini, jadi teman-teman sudah kadung berangkat di perbatasan tapi akhirnya terlunta-lunta disana," imbuhnya.
Kerusakan akibat serangan udara di provinsi Saada, Yamen, 11 Agustus. (REUTERS/Naif Rahma) |
Sebelumnya diberitakan, putri pemimpin FPI Rizieq Shihab tertahan di Oman dan tak bisa masuk ke Yaman bersama ratusan WNI lainnya.
Pihak Kemenlu menyebut tertahannya ratusan WNI itu bukan karena kebijakan KBRI Oman. Hal itu merupakan kebijakan dari pemerintah Oman.
Izzudin mengatakan lebih dari 50 orang sudah berhasil lolos ke Yaman. Namun, ia menyebut sisanya hidup terkatung-katung dengan biaya sendiri di hotel dan penginapan yang disebutnya mahal. Uang pelicin pun disebutnya terpaksa dikeluarkan oleh sejumlah orang.
"Bahkan saya menerima beberapa laporan WNI dipaksa untuk membayar sekitar 250 dolar per orang agar bisa masuk. Sangat memalukan sekali," lanjutnya.
Izzudin mengatakan keluhan-keluhan ini sudah disampaikan kepada KBRI Yaman, namun tidak mendapatkan tanggapan berarti. Menurut dia, KBRI selalu berdalih bahwa tempat belajar mayoritas pelajar Indonesia tidak aman.
"Tapi faktanya mereka bertahun-tahun tidak pernah melihat langsung kondisi daerah kami itu seperti apa, bahkan beberapa staf KBRI Yaman tidak pernah masuk Yaman kecuali di perbatasan saja," lanjut Izzudin.
PPI Yaman berharap negara bisa memberikan solusi dalam menyelesaikan permasalah ini dalam bentuk apapun. Apalagi menurut Izzuddin, hanya WNI saja yang terlantar sementara negara lain tidak.
(kst/arh)
Kerusakan akibat serangan udara di provinsi Saada, Yamen, 11 Agustus. (