"Ini menurut saya bukan ekonomi neolib lagi, ini lebih parah dari neolib. Ini menurut saya ekonomi kebodohan. The economics of stupidity. Ini yang terjadi," kata Prabowo dalam pidatonya saat Rakernas Lembaga Dakwah IslamIndonesia (LDII) di pondok pesantren Minhajurrosyidin, Jakarta, Kamis (11/10).
Prabowo mengaku dulu sempat setuju dengan konsep ekonomi neoliberal. Dia menganggap konsep itu baik saat Indonesia masih di bawah payung rezim Orde Baru atau saat dirinya masih menjadi tentara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prabowo menyinggung soal gini rasio Indonesia. Menurutnya, data gini rasio menunjukkan ketimpangan ekonomi yang sangat jelas. Dengan kata lain, kekayaan milik segelintir orang tidak menetes ke bawah atau tidak dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.
Prabowo mengatakan hal tersebut bukan asal bunyi. Dia berkaca dari keadaan yang mana kekayaan Indonesia justru mengalir ke luar negeri. Dia menyebut $300 miliar mengalir ke luar negeri dalam rentang 1997-2014. Dengan demikian, tidak ada kekayaan yang berada di dalam negeri.
Prabowo mengklaim pemerintah telah mengakui hal tersebut. Bahkan, katanya, pemerintah juga mengamini ada sekian ribu triliun uang yang saat ini berada di luar negeri.
"Tidak mungkin Indonesia bisa menjadi negara yang sejahtera, tidak mungkin bangsa Indonesia menjadi negara yang sejahtera yang adil, karena uangnya tidak ada. Sekarang terbukti, rumah sakit banyak yang tidak dibayar BPJS-nya. Banyak sekali," ucap Prabowo.
"Sangat jelas, ayat (1) perekonomian disusun berdasarkan asas kekeluargaan. Ayat (2), cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara," kata Prabowo.
"Bapak ibu sekalian, elite kita telah tinggalkan cita-cita pendiri-pendiri bangsa kita semua," kata dia. (bmw/osc)