Andre menjelaskan, hal itu lantaran dalam video mula-mula petinggi IMF dan Bos Wolrd Bank itu justru menunjuk bentuk victory dari dua jari, telunjuk dan tengah. Namun dalam video itu Luhut justru mengarahkan keduanya untuk berfoto dengan satu telunjuk.
"Semula kan di video victory, dua kan, tapi kemudian diubah jadi satu semua. Kelihatan memang angka itu diarahkan ke satu (oleh Luhut)," kata Andre saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Senin (15/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya memang selalu penuh pencitraan, yang kecil seperti itu juga mereka paksakan," kata dia.
"Yang penting rakyat dukung Prabowo-Sandi," katanya.
"Pak Jokowi itu hebat, bisa berikan jamuan miliaran untuk kaum neolit, sementara bantuan untuk Lombok ya nanti dulu, nomor dua itu mah," lanjut Andre.
Andre bahkan menyinggung soal penghargaan yang diterima oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kata dia, penghargaan memang pantas diberikan untuk pendukung kaum neolit. Sementara dari bangsa sendiri Sri Mulyani justru tak dihargai apa-apa.
"Ya itu, kan dapat juga penghargaan itu menterinya, tapi penghargaan dari bangsa neolit, bukan bangsa sendiri," katanya.
Sebelumnya bos IMF dan World Bank memang terlihat sempat berpose mengacungkan jari telunjuk mereka saat upacara penutupan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018, di Nusa Dua, Bali pada Minggu (14/10).
Pose jari telunjuk itu kerap diidentikan dengan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019. Jokowi dan Ma'ruf mendapatkan nomor urut 01 dalam Pilpres 2019.
Luhut menyatakan bahwa pose tersebut bermakna bahwa kedua lembaga internasional mengapresiasi penyelenggaraan IMF-WB yang dihelat di era Jokowi. Menurutnya, jari telunjuk berarti Indonesia nomor satu.
Luhut menegaskan bahwa Lagarde dan Kim tidak boleh berpolitik. Diakui Luhut, memang saat berpose di depan, Lagarde sempat menanyakan arti angka satu tersebut. (tst/osc)