"Mereka PNS di Kemenhub. Dua-duanya mencoba (latihan menembak), namun saat kejadian itu IAW yang melakukan penembakan," ujar Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (16/10).
Belum ada pernyataan dari Kementerian Perhubungan tentang dua pegawai tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kata Nico, IAW dan RMY belum sah menjadi anggota Perbakin. Namun mereka meminjam senjata itu dari orang berinisial A dan G.
Penembakan peluru nyasar itu terjadi, Senin (15/10) pukul 14.30 WIB. Peluru menembus masuk ke ruangan di lantai 13 yaitu 1313 dan lantai 16 yaitu 1601.
"Petugas melakukan pengecekan ke Lapangan Tembak Senayan dan didapati tersangka menguasai senjata api tanpa izin. Mereka pun diamankan," tuturnya.
Nico mengatakan dari penyidikan itu dibuktikan jika tembakan tersebut merupakan peluru nyasar.
"Tim sudah bekerja selama hampir 16 jam untuk membuktikan sehingga bisa menepis kalau itu disengaja untuk mengacau tidak, seperti itu," ucapnya.
Selain itu, ada juga satu senjata api merek AKAI Custom buatan Austria kaliber 40 warna hitam, dua buah magazine dan kotak peluru ukuran 40.
IAW dan RMY pun dijerat dengan Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.
Glock-17
Ketua DPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet menceritakan insiden peluru nyasar itu terjadi saat pelaku IAW tidak sengaja menekan pelatuk pistol saat hendak mengganti magazen.
"Jadi saat dia reloading pengisian magazen, membuka magazen, dia terpencet," ujar Bamsoet di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (16/10).
Bamsoet menuturkan I tidak menyadari magazen di pistolnya masih tersisa peluru. IAW menggunakan pistol jenis Glock-17 kaliber 9 milimeter yang telah dimodifikasi menjadi otomatis.
Kata Bamsoet, karena pistol otomatis, peluru yang keluar dari pistol milik I lebih dari sekali.
"Itu keterangan sementara yang bisa saya peroleh dari lapangan dan sudah ada yang bertanggung jawab," ujarnya.
Bamsoet juga menjelaskan penyebab peluru tersebut bisa menjangkau gedung DPR. Ia berkata hal itu terjadi lantaran I menggunakan lapangan tembak reaksi yang ada di sisi paling kiri. Posisi lapangan itu, kata dia, hanya berjarak 100 sampai 200 meter dengan Gedung DPR.
"Dan masih ada daya rusaknya (peluru 9 mm) yang kuat," ujar Bambang.