Hal tersebut diputuskan setelah petugas melakukan survei jalur pendakian gunung api tertinggi kedua di Indonesia tersebut.
Dalam siaran persnya, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Sudiyono, menyatakan dari survei yang dilakukan 3-5 Oktober 2018 pihaknya berkesimpulan rehabilitasi jalur pendakian dan fasilitas pendukung baru mungkin dilakukan usai musim hujan, atau sekitar Mei 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, Sudiyono mengatakan akibat lamanya masa penutupan tersebut, pihaknya berupaya memberikan alternatif bagi warga dan pelaku wisata yang menggantungkan pencarian nafkah dari gunung Rinjani.
Hasil Survei Jalur Pendakian
Survei jalur pendakian dan sarana prasarana wisata yang dilakukan pascagempa Lombok dilakukan di jalur pendakian Sembalun, Senaru, dan jalur budaya Torean.
Pada jalur Sembalun didapatkan informasi bahwa Kantor TNGR Resort Sembalun dalam kondisi rusak berat. Selain itu terdapat 14 titik longsor, dan 11 titik tanah retak. Pun, terpantau dari 14 selter pendakian hanya 12 yang tercatat dalam kondisi baik.
"Tim mampu melaksanakan survei sampai dengan kilometer 7,8. Jalur pendakian Sembalun terputus akibat longsor di Bukit Penyesalan, sekitar 120 m sebelum Pelawangan Sembalun)," ujar Sudiyono.
Tak jauh beda dengan apa yang didapatkan pada jalur Senaru. Kantor TNGR Resort Senaru pun mengalami kerusakan berat. Terdapat 14 titik longsor dan retakan. Jalur pendakian tersebut dinyatakan terputus akibat longsor di bawah Pelawangan Senaru.
"Di pos III dan Cemara Lima tidak tersedia air," kata Sudiyono.
Sementara itu, di jalur Torean terpantau ada 12 titik longsor dan retakan tanah. Jalur pendakian di sana terputus sebelum Air Terjun Penimbungan akibat longsor pascabencana gempa Lombok.