Ia menyarankan agar penyelenggaraan debat dapat dilangsungkan di wilayah pedesaan dengan dihadiri oleh rakyat biasa ketimbang digelar di wilayah perkotaan yang cenderung elitis.
"Saya melihat debat presiden kita selama ini terlalu "kota" dan sangat "elitis". Saya usul ke KPU agar debat diselenggarakan di desa dengan audien rakyat biasa di Papua/Kalimantan/Sulawesi Aceh dan Jawa," kata Antoni dalam keterangan tertulisnya, Selasa (23/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pesertanya juga rakyat biasa yang menikmati dan akan merasakan langsung arti sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah," kata dia.
"Bukan para elit yang sering kali mengatasnamakan mereka, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya mereka rasakan, pikirkan dan kerjakan tiap harinya," kata dia.
Meski begitu, Antoni menyerahkan usulan tersebut kepada KPU sebagai pihak yang berwenang memutuskannya.
Ia menegaskan bahwa Jokowi dan Ma'ruf Amin menyetujui dan tak memperoalkan untuk melaksanakan debat dimanapun dan format apapun.
"Yang paling penting tujuan debat itu tercapai yaitu ketika rakyat mengetahui kualitas dan rekam jejak pemimpin yang akan mereka pilih," kata dia.
Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, sebelumnya mengusulkan debat akan lebih efektif bila diselenggarakan di universitas-universitas terpilih alih-alih di hotel berbintang yang justru akan menelan biaya cukup besar.
"Kami mengusulkan pada KPU agar debat digelar di kampus daripada di hotel, itu lebih efektif," kata Dahnil melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Minggu (21/10).