Efek buruk dari kasus Ratna sudah terasa terhadap elektabilitas Prabowo-Sandi. Di mana hasil survei menunjukkan swing voters cenderung memilih pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin.
"Hoaks Ratna Sarumpaet membuat pemilih yang masih mengambang jauh lebih terdorong memilih Jokowi," tutur Denny mengutip bagian kesimpulan survei yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (23/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
LSI Denny JA kemudian membagi efek elektoral kasus Ratna terhadap dua paslon capres-cawapres ke dalam dua segmen, yaitu segmen pendidikan dan pendapatan.
Dalam segmen pendidikan, yakni responden yang berlatar belakang SD, SMP, SMA, elektabilitas Prabowo-Sandi menurun. Pada September 27,9 persen, lalu menjadi 27,7 persen di bulan Oktober.
Kemudian dari aspek responden berlatar belakang perguruan tinggi, elektabilitas Prabowo-Sandi menurun lebih tajam. Dari 46,8 persen pada September menjadi 37,4 persen pada Oktober.
Namun, penurunan terjadi di kalangan responden dengan penghasilan di atas Rp3 juta. Elektabilitas Prabowo-Sandi berada pada angka 43,8 persen pada September kemudian menjadi 34,5 persen pada Oktober.
"Kalangan terpelajar dan segmen menengah ke atas kurang menyukai pemimpin yang mudah dikecoh dan reaksioner," kata Denny.
LSI Denny JA menghelat survei ini sepanjang 10-19 Oktober dengan melibatkan 1.200 responden. Metode yang digunakan, yakni multistage random sampling.
Sementara proses wawancara dilakukan secara tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of error mencapai 2,8 persen. (bmw/osc)