Penyebabnya, kaum terpelajar dan kelas menengah ke atas tak menyukai sosok yang mudah tertipu dan reaktif terhadap hoaks.
"Kalangan terpelajar dan segmen menengah ke atas kurang menyukai pemimpin yang mudah terkecoh dan reaksioner," tulis LSI Denny JA, dalam paparan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (23/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malam harinya, Prabowo menggelar konferensi pers soal kasus itu di kediamannya. Saat itu, Prabowo menyebut kasus penganiayaan itu merupakan pelanggaran HAM dan tindakan pengecut.
Peserta 'Solidaritas Demokrasi untuk Ibu Ratna Sarumpaet’ menunjukkan pamflet yang berisi foto wajah Ratna Sarumpaet yang bengkak, di Jakarta, Selasa (2/10). (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan) |
Usai kasus hoaks itu terungkap, LSI Denny JA melakukan survei terhadap 1.200 responden, pada 10-19 Oktober. Margin of error-nya mencapai +/- 2,8 persen.
LSI Denny JA membandingkannya dari data hasil survei pada September atau sebelum kasus Ratna, dengan data hasil survei Oktober atau pascakasus hoaks itu terungkap. Selain itu, survei dampak kasus hoaks itu dibagi dalam beberapa segmen.
Sebaliknya, dukungan kaum sarjana kepada Jokowi-Ma'ruf Amin meningkat dari yang sebelumnya 40,5 persen menjadi 44 persen.
Responden dengan pendidikan SD, SMP, dan SMA, pemilih Prabowo-Sandiaga naik sedikit dari yang sebelumnya 27,7 persen pada September menjadi 27,9 persen.
Ratna Sarumpaet memakai rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka hoaks di Dirkrimum Polda Metrojaya, Jakarta, Jumat (5/10). (ANTARA FOTO/Reno Esnir) |
Di sisi lain, dukungan pada Jokowi di kalangan menengah ke atas ini meningkat dari sebelumnya 46,2 persen menjadi 54,8 persen.
Namun, dukungan terhadap Prabowo-Sandi di kalangan dengan pendapatan Rp3 juta ke bawah meningkat dari 25,2 persen menjadi 27,1 persen. Hal yang sama terjadi pada Jokowi-Ma'ruf, yang dukungannya naik dari 55,1 persen menjadi 58,4 persen.
Sebelumnya, survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terhadap 1220 responden pada 7-14 September menunjukkan bahwa elektabilitas Jokowi mencapai 60,2 persen, sementara Prabowo hanya 28,7 persen.
(arh/gil)
Peserta 'Solidaritas Demokrasi untuk Ibu Ratna Sarumpaet’ menunjukkan pamflet yang berisi foto wajah Ratna Sarumpaet yang bengkak, di Jakarta, Selasa (2/10). (
Ratna Sarumpaet memakai rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka hoaks di Dirkrimum Polda Metrojaya, Jakarta, Jumat (5/10). (