"Saya beranggapan, gugatan ambang batas (presidential threshold - PrT) ini pasti ditolak MK. Kenapa harus ditolak? PrT itu sangat penting dalam konteks sistem demokrasi kita," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (25/10).
Taufiq menilai gugatan ambang batas 20 persen itu hanya karena adanya ketidakpahaman akan sistem ini. Keputusan MK yang menolak gugatan itu dinilainya sudah tepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sistem presidensial tidak akan ada jalan keluar jika terjadi kebuntuan antara eksekutif dan legislatif. Sementara dalam sistem parlemen ada jalan keluar yaitu dengan mekanisme mosi tidak percaya.
Hanya saja Taufiq menilai bahwa masalah kedua dalam sistem presidensial Indonesia adalah tidak adanya koalisi permanen. Jika tidak ada koalisi permanen, maka akan berpotensi memunculkan pemerintah yang sangat tidak stabil.
"Maka untuk mengatasi persoalan absen koalisi permanen ini, kita membentuk UU yang menetapkan presidential threshold yang cukup besar. Untuk apa? Agar pemerintah terjaga stabilitasnya," ujar dia.
Lihat juga:MK Tolak Gugatan Ambang Batas Presiden |
Ketua Majelis Hakim, Anwar Usman dalam sidang putusan itu menyebut kelima gugatan ditolak setelah memeriksa berbagai fakta dan pertimbangan dari para hakim. (ayu/ayp)