Bimo Wiwoho
Wartawan yang juga penyuka sejarah

Keminggris 'Anak Jaksel' dan Ikrar Bahasa yang Terlupakan

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Minggu, 28/10/2018 14:06 WIB
Keminggris 'Anak Jaksel' dan Ikrar Bahasa yang Terlupakan Ilustrasi peringatan sumpah pemuda. (ANTARA FOTO/Moch Asim)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pernah saya bicara dengan seorang kawan memakai bahasa sunda kasar di sebuah kedai kopi di Jakarta. Satu jam lamanya pembicaraan kami diwarnai 'aing-sia, aing-sia' tanpa menghiraukan orang kiri-kanan menguping.

Kemudian, datang tiga perempuan tanggung dengan tampang bersolek duduk di dekat meja kami. Kawan saya lalu menenggak kopinya usai melirik mereka dan dia pun berbicara dengan gaya keminggris alias berbahasa keinggris-inggrisan. Lengkap dengan volume tinggi seolah ingin didengar seluruh insan di kedai itu.

Tak lama, ketiga gadis itu pindah ke meja yang jauh di sudut. Dari gelagat mereka risih mendengar cuap-cuap keminggris kawan saya.


Keminggris adalah gaya berbahasa dengan mencampurkan kata bahasa Inggris dalam kalimat berbahasa Indonesia. Dua bahasa dicampur aduk tanpa susunan kata yang jelas dalam satu kalimat.

Perihal keminggris ini, anak muda Jakarta Selatan sempat menjadi bulan-bulanan di media sosial. Menurut mereka yang mengolok-olok, anak Jaksel kerap berinteraksi dengan gaya keminggris atau seperti Cinta Laura ketika berbicara.
Cinta Laura terkenal dengan slogan khasnya 'Becek enggak ada ojek'. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Apakah adil jika hanya anak Jaksel yang dicibir? Rasa-rasanya, sebagian besar anak muda Jabodetabek juga bergaya bahasa demikian. Atau mungkin juga di kota-kota besar lainnya macam Surabaya, Semarang, Bandung dan seterusnya.

Mungkin pula kita berbicara atau mengunggah konten di media sosial menggunakan gaya serupa. Hati-hati. Jangan sampai menepuk air didulang lalu malah terpercik ke muka sendiri.

Saya sering mendengar orang bicara dengan gaya keminggris. Hampir setiap hari.

Saya menyebut mereka tentara Siliwangi. Bukan karena mereka selalu berdiri tegap layaknya serdadu atau pohon palem, tetapi karena mengaitkannya dengan sejarah.

Setelah merdeka, Indonesia membentuk satuan-satuan tentara di beberapa daerah. Ada Divisi Siliwangi, Divisi Panembahan Senopati, Divisi Brawijaya, Divisi Bukit Barisan dan seterusnya.

Di antara sejumlah satuan itu, tentara Divisi Siliwangi dikenal kerap berbicara menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa Belanda.

Mengapa demikian? Karena sebagian besar Divisi Siliwangi diisi oleh mantan tentara KNIL bentukan Belanda sebelum Jepang datang. Petrik Matanasi dalam Pribumi jadi Letnan KNIL mencatat, "Pengaruh mantan perwira KNIL, dari seluruh divisi yang ada di indonesia, lebih banyak terasa di Divisi Siliwangi sebagai divisi paling heterogen" (2012:147).

Sementara satuan lainnya, seperti Divisi Diponegoro, didominasi alumnus Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang. Kemampuan bahasa Belanda mereka tidak casciscus seperti tentara Siliwangi.

Itulah dasar saya menyebut orang-orang keminggris sebagai tentara Siliwangi. Meski ada sedikit perbedaan, maknanya kurang lebih sama.
Pangilma TNI dan barisan petinggi militer. Tentara Indonesia memiliki sejarah yang bersinggungan dengan perpaduan bahasa keminggris saat Divisi Siliwangi masih diisi banyak mantan KNIL. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Sumpah Pemuda

Menurut Joss Wibisono, penulis yang selama ini lantang mengkritik, fenomena keminggris sudah nampak pada medio 1980-an silam.

Tetapi jika melihat keminggris hari ini, dari kacamata awam, ada satu musabab utama: tak paham sejarah. Hanya sebatas membaca atau sekadar tahu.

Golongan keminggris kemungkinan besar tidak memahami betapa Soegondo Djojopoespito muda dan kawan-kawan begitu mendambakan suatu bahasa milik bangsa sendiri. Hingga akhirnya mereka mengikrarkan Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 silam.

"Kami putra putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,"

Ikrar yang diucapkan para pemuda kala itu bukan sekadar kalimat yang terlontar spontan tanpa pikir panjang dari mulut manusia tertindas, melainkan upaya untuk membedakan diri dengan kaum penjajah.

Lebih dari itu, ikrar Sumpah Pemuda juga mengandung semangat untuk menyatukan semua golongan dalam rangka menentang penjajah.

Persatuan dan kesamaan tujuan hanya bisa terbentuk di antara berbagai golongan ketika sudah ada kesamaan identitas. Bahasa, bagi para pemuda pergerakan kala itu, merupakan salah satu media untuk membentuk identitas bersama demi mempersatukan seluruh golongan.

"Kita sama-sama berbahasa Indonesia. Ayo, kita berjuang secara bersama-sama menuju kemerdekaan." Kurang lebih seperti itu perumpaannya.
Presiden Jokowi saat merayakan Sumpah Pemuda di Istana Bogor tahun lalu. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Sumpah Pemuda merupakan bagian penting dalam sejarah Indonesia. Semua gerakan-gerakan menentang penjajah menjadi lebih terstruktur setelah itu. Hingga akhirnya Indonesia merdeka pada 1945.

Generasi muda yang memahami sejarah, khususnya momen Sumpah Pemuda dan dampak positif bagi pergerakan menuju kemerdekaan, tentu tidak akan merusak makna perjuangan pendahulu dengan mencampurkan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.

Musabab lain adalah media massa khususnya televisi. Begitu banyak pembaca acara kerap bergaya keminggris, belum lagi jika mengungkit cara artis-artis atau figur publik lainnya berbicara. Sebelas dua belas.

Ini anomali. Media massa, dalam menjalankan fungsinya, mesti menjelaskan suatu isu atau berita dengan cara sesederhana mungkin agar isi berita diterima atau dijangkau dan dipahami oleh semua kalangan.

Maka ketika penyampaian dilakukan dengan bahasa Indonesia bercampur bahasa Inggris, apakah semua kalangan dengan latar belakang pendidikan yang beragam dapat memahami sepenuhnya?

Aspek literasi juga turut berperan dalam menjamurnya fenomena keminggris. Banyak sekali buku novel dengan penulisan gaya keminggris.

Parahnya, Penghargaan Literasi Ekuator (bukan nama sebenarnya) pernah menominasikan seorang penulis, yang melahirkan novel bergaya keminggris, sebagai penulis muda berbakat atau terbaik. Ironis. Keminggris dalam novelnya kemudian semakin terbudidayakan lantaran diangkat ke layar lebar.

Sungguh disayangkan pula ketika lembaga negara ikut-ikutan mempopulerkan gaya keminggris. Ombudsman pernah merilis temuannya mengenai hal itu. Meski tidak banyak, patut disayangkan karena lembaga negara turut melakukan perusakan bahasa Indonesia.

Pemerintah daerah juga turut berperan, yakni ketika memberikan izin penamaan bangunan menggunakan kata dalam bahasa Inggris. Padahal sudah jelas diatur dalam UU No.24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Pada Pasal 36 ayat (3) tertuang bahwa, Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau yang dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.
Siswa sekolah saat merayakan Gebyar Sumpat Pemuda di Bogor tahun lalu. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

Jaga Bahasa

Kita harus sadar bahwa bahasa Indonesia tidak boleh dirusak dengan segala jenis cara. Termasuk dengan mencampurkan bahasa Inggris dalam satu kalimat.

Kita mesti siuman bahwa bahasa Indonesia tidak boleh dirusak. Apalagi oleh generasi muda selaku penerus dan penjaga identitas Bangsa Indonesia yang diwariskan pendahulu.

Apabila punya misi menjadikan bahasa Inggris menjadi bahasa nasional kedua, bukan gaya keminggris yang patut ditempuh. Gunakanlah bahasa Inggris dalam satu kalimat penuh tanpa mencampurkannya dalam kalimat bahasa Indonesia.

Jika ingin menaikkan status sosial, bergaya keminggris juga bukan upaya yang tepat. Bekerja keras dan berkarya untuk orang banyak jauh lebih rasional.

Alih-alih ingin terlihat hebat, bergaya keminggris juga bisa menjadi bumerang. Orang lain bisa saja melihat keminggris sebagai ciri-ciri atau simtom krisis identitas.

Jika menyantap hamburger dengan kuah soto disebut udik atau kampungan, maka mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam satu kalimat pun sama udiknya.

Lembaga negara juga kiranya turut berperan dalam menjaga bahasa Indonesia dari perusakan yang tak disadari.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) misalnya. Lebih baik menegur perusahaan media yang membudidayakan keminggris daripada menyensor bagian tubuh arca peninggalan kerajaan tradisional.

Lembaga negara mesti menjadi pionir untuk menyadarkan bahwa Bahasa Indonesia tidak boleh dirusak.
(CNN Indonesia/Fajrian)



(gil)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA