Prabowo sempat mengatakan warga Boyolali tidak pernah masuk ke hotel mewah semacam Ritz Carlton di Jakarta.
Hal itu dikatakan Seno saat dikonfirmasi soal ucapannya ketika berorasi dalam aksi 'Save Tampang Boyolali' yang digawangi oleh Forum Boyolali Bermartabat, di di gedung Balai Sidang Mahesa, Boyolali, Minggu (4/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seno yang merupakan kader PDIP serta sukses di Pilkada Boyolali 2015, menyebut aksi ribuan warga itu terjadi bukan karena pengerahan massa dengan garis politik yang sama.
Bupati Boyolali Seno Samodro (tengah), di Boyolali, 2015. (ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho) |
Baginya, pernyataan Prabowo itu terbilang tak layak, terlebih sebagai calon presiden. "Enggak pantas capres ngomong begitu. Masa ke hotel bintang lima ditentukan oleh tampang. Mau tampangnya merongos, mau gimana, tetap diterima, siapapun boleh ke hotel bintang lima kalau punya kartu kredit," tuturnya.
Pemkab Boyolali sendiri diakuinya tidak akan mengambil langkah hukum terhadap Prabowo. Namun, pihaknya akan mengawal pelaporan yang dilakukan oleh warga ke kepolisian.
Sebelumnya, Prabowo melontarkan pernyataan yang mengaitkan masalah kesejahteraan warga, tarif hotel berbintang di Jakarta, dan tampang Boyolali.
"Kalian kalau masuk [hotel] mungkin kalian diusir karena tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian, ya, tampang-tampang orang Boyolali," ujar Prabowo, Selasa (30/10).
"Saya bingung kalau saya bercanda, dipersoalkan. Kalau saya begini dipersoalkan, begitu dipersoalkan," kata Prabowo saat memberi sambutan dalam Tabligh Akbar dan Deklarasi Komando Ulama Pemenangan Prabowo-Sandi (Koppasandi) di GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, Minggu (4/11).
(arh/dea)
Bupati Boyolali Seno Samodro (tengah), di Boyolali, 2015. (