Pernyataan satire tersebut diucapkan Nuruzzaman merespons kasus Imam Besar FPI Rizieq Shihab yang sempat diperiksa dan ditahan oleh keamanan setempat. Rizieq berurusan dengan polisi karena diduga memasang bendera tauhid di rumahnya di Mekkah.
"Ya, mereka sekarang saatnya aksi bela Habib Rizieq Shihab dan bendera tauhid di Saudi," ucap Nuruzzaman saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (8/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Massa yang mengikuti aksi itu meyakini bendera yang dibakar anggota Banser saat itu adalah bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid.
Bendera yang menjerat Rizieq juga disebut sama dengan bendera yang dibakar anggota Banser di Garut. Dengan kata lain, benda itu bukan bendera tauhid.
"Iya, dong. Ini membuktikan bahwa bendera HT itu dilarang di Saudi sebagai kerajaan Islam," ucap Nuruzzaman
"Pertanyaannya kenapa Saudi melarang bendera HT padahal tulisannya kalimat tauhid? Karena mereka tahu HT ini adalah organisasi politik, bukan organisasi dakwah," lanjutnya.
Ketua Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas melontarkan sindiran serupa. Menurutnya bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid yang dibakar di Garut adalah atribut HTI yang dilarang. Bukan bendera tauhid.
"Kalau FPI tetap menyangkal itu bendera terlarang, itu urusan mereka. Jadi silakan saja diurus. Kalau perlu didemo tuh Pemerintah Saudi atau dubes RI untuk Saudi," ujar Yaqut.
Tauhid Tak Berbendera
Nuruzzaman mengatakan kalangan santri yang ditempa di lingkungan pesantren memahami bahwa sebetulnya tidak ada bendera tauhid.
Nuruzzaman mengatakan bersikap baik kepada orang lain, bertutur kata yang sopan serta hidup saling menghormati adalah contoh sikap menghormati tauhid yang benar.
"Jangan merasa paling Islam dan menghakimi orang lain, tapi belajarlah terus agama Islam yang rahmatan lil alamin, bukan Islam yang membuat ketakutan dan teror," ujar Nuruzzaman. (bmw/wis)