Menurut Fahri, hal itu merupakan bentuk kegagalan pemerintah dalam mengidentifikasi penggiringan opini maupun pembelahan di masyarakat.
"Bahwa sebetulnya kemampuan rakyat atau masyarakat atau politisi di luar pemerintahan untuk menciptakan opini atau pembelahan itu sangat lemah. Yang punya kemampuan menciptakan opini dan pembelahan yang sangat kuat itu adalah pemerintah," kata Fahri di kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (9/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini kata dia, berbeda dengan pemerintahan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berjalan selama 10 tahun.
"Kata-kata sontoloyo, genderuwo ini adalah judgement yang berasal dari kegagalan identifikasi dari pemerintahan bahwa sumber dari genderuwo dan sontoloyo adalah pemerintah. Power holder-nya, pemimpinnya," kata Fahri.
Sebab, kata dia, masyarakat itu tidak punya kapasitas untuk menjadi genderuwo atau sontoloyo seperti yang disebutkan Jokowi.
"Makanya harus kembali ke sendiri. Jadi ini menepuk air terpercik ke muka sendiri, sebenarnya begitu, loh," ujarnya.
Fahri berharap Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) sekaligus pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra dapat memberi masukan kepada Jokowi agar lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan.
"Mungkin saya berharap orang seperti Pak Yusril itu kalau bisa mengamankan, menertibkan kosakata presiden. Sebab, itu bahaya betul," kata Fahri.
Sebelumnya, dalam pidato pembagian sertifikat tanah untuk masyarakat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat pagi ini, Jokowi menyebutkan banyak politikus yang pandai memengaruhi dan tidak menggunakan etika maupun sopan santun politik yang baik.
"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar, kan? Itu sering saya sampaikan itu namanya 'politik genderuwo', nakut-nakuti," kata Jokowi di Tegal.