"Kami melaporkan adanya eksploitasi atau pemanfaatan anak untuk kepentingan politik," ujar Ade di Rumah Cemara, Jakarta, Jumat (9/11).
Ade membeberkan salah satu bukti pelibatan anak dalam politik terlihat dalam sebuah video yang beredar di media sosial. Video itu memuat konten anak-anak berseragam pramuka berteriak '2019 Ganti Presiden'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Direktur Hukum dan Advokasi TKN Pasang Haro Rajagukguk meminta aparat KPAI bersikap tegas dalam menindak eksploitasi anak dalam kegiatan politik.
Ia meminta KPAI tidak sekedar memberi pemberitahuan, melainkan memberikan edaran atau peringatan adanya sanksi pidana kepada seluruh masyarakat hingga paslon jika melibatkan anak di bawah umur dalam Pemilu.
"Kami hanya mengingatkan kepada aparat penegak hukum termasuk KPAI supaya lebih tegas," ujar Pasang di Rumah Cemara, Jakarta.
"Kalau memang diselidiki ada terus disidik, ya tidak apa-apa usut langsung. Karena apa, kalau ini dibiarkan masa depan anak itu akan hancur, akan rusak secara psikologis," ujarnya.
Wakil Direktur Penggalangan Pemilih Perempuan TKN Erlinda menuturkan ekpolitasi anak di bawah umur dalam politik sangat berbahaya. Sebab, ia berkata anak di bawah umur belum memiliki kematangan berpikir.
Mantan Komisioner KPAI ini anak di bawah umur sangat mudah meniru apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan.
"Artinya apa yang dilakukan anak banyak merupakan hasil peniruan terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya," ujar Erlinda. (panji/osc)