Saat membagikan sertifikat tanah bagi warga Jakarta Selatan, Selasa (22/10), Jokowi mengingatkan masyarakat akan bahaya politikus sontoloyo. Menurutnya politikus sontoloyo memengaruhi masyarakat dengan isu-isu tak jelas.
Mantan Wali Kota Solo itu tak menyebut siapa politikus sontoloyo yang ia maksud. Pidato itu pun direspons berbagai kalangan. Bahkan Fadli Zon, Wakil Ketua DPR dari Partai Gerindra, membalasnya dengan puisi berjudul 'Ada Genderuwo di Istana'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan keras Jokowi dalam beberapa waktu belakang dinilai melenceng dari gaya politiknya selama ini. Jokowi dikenal dengan politik simbol ala Jawa. Biasanya ia menanggapi serangan politik bukan dengan verbal.
Misalnya pada 17 Juni 2016 saat kapal-kapal China masuk ke zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di Natuna dan melakukan pencurian ikan tanpa izin. Jokowi langsung menggelar rapat terbatas di atas geladak kapal perang Imam Bonjol lima hari setelah kejadian.
Atau saat Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyindir ambisi Jokowi membangun infrastruktur. Jokowi langsung menyindir balik dengan mendatangi Kompleks Olahraga Hambalang. Seperti diketahui, kasus korupsi pembangunan Hambalang menyeret beberapa elite Partai Demokrat dan terjadi ketika SBY berkuasa.
Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik LIPI, Siti Zuhro, mengatakan memang ada perubahan gaya politik dari Jokowi. Siti menyebut perubahan gaya politik Jokowi tidak terlepas dari serangan dari kubu penantang, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.
Kedua kubu dinilai belum memiliki komitmen tinggi pada kampanye damai.
"Sehingga yang terjadi perilaku frontal, berhadap-hadapan betul, tidak tedeng aling-aling lagi," ujar Siti saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/11).
Siti berujar sebenarnya keputusan Jokowi untuk tampil lebih frontal sangat riskan. Pasalnya selama periode pertama, publik simpati kepada Jokowi karena politik simbol yang mencerminkan budaya tinggi.
Dalam survei LIPI yang dirilis Juli lalu, masyarakat Indonesia cenderung lebih memilih pemimpin yang sederhana dan merakyat ketimbang berwibawa.
Jokowi selama ini dikenal memiliki gaya politik dengan memakai simbol untuk menyindir ketimbang verbal yang menyerang. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A). |
Survei ini dilakukan terhadap 2.100 responden dengan metode multistage random sampling di 34 provinsi pada 19 April-5 Mei 2018. Margin of error yang digunakan 2,14 persen.
"Preferensi masyarakat itu tidak bisa dijaga Pak Jokowi. Orang kan memilih menu sederhana dan merakyat. Kalau sekarang menunya beda lagi, ya orang enggak nafsu, ibaratnya seperti itu," ujar Siti.
Dengan meladeni perlawanan dengan istilah-istilah kontroversial, Ray menyebut Jokowi menambah kabur substansi kampanye.
"Akhirnya, publik kita hanya ribut soal ungkapan yang sebenarnya tidak perlu. Dan wajah kampanye kita hanya seperti bertarung mengungkapkan ungkapan yang saling menyindir, belum masuk ke soal-soal substantif," tutur Ray dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, Sabtu (12/11).
Dia menuturkan, seharusnya Jokowi dan juga Prabowo mulai melakukan perdebatan dalam hal substantif. Pasalnya mayoritas masyarakat Indonesia masih minim literasi politik.
"Pada masyarakat yang literasinya masih berkutat pada simbol, kulit dan permukaan, pesan dari simbol tersebut justru terlupakan," tutur dia. (dhf/osc)
Jokowi selama ini dikenal memiliki gaya politik dengan memakai simbol untuk menyindir ketimbang verbal yang menyerang. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).