"Setiap kali ada politisi bicara kasar kita cabein mulutnya. Karena kita sekarang butuh politik yang mempersatukan bukan memecah belah," kata Sandi kepada pedagang cabai bernama Rudi, berdasarkan keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (12/11).
Sandi berujar bahwa menjejali mulut politikus kasar dengan cabai terinspirasi dari pengalamannya dengan ibunda, Mien Uno. Sandi bercerita ibunya biasa menjejali mulutnya dengan cabai tiap kali dirinya berbicara kasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Sandi tidak menyebut nama politikus yang menurutnya bicara kasar.
Sebagian masyarakat juga menyoroti pernyataan cawapres pendamping Jokowi, Ma'ruf Amin soal 'budek' dan 'buta'.
Direktur Eksekutif New Media Watch, Agus Sudibyo menilai dua pasangan capres-cawapres yang bertarung di Pilpres 2019 belum memperkenalkan gagasan dan program yang substansial bagi publik sejak kampanye Pilpres 2019 dimulai.
Agus menilai semenjak kampanye berlangsung, yang terjadi adalah aksi dan reaksi atas wacana yang bersifat remeh, bahkan cenderung hoaks.
Kedua kubu dianggap terlalu sibuk membahas hal-hal yang bersifat sensasional. padahal, kata dia, dari riset yang dimilikinya, konten sensasional tak akan berpengaruh kepada kedua kubu dalam Pilpres.
"Hoaks yang dilempar tim Prabowo hanya mempersolid pendukung Prabowo, tidak memengaruhi pihak sana. Hoaks yang dilempar kubu Jokowi hanya mempersolid kubu mereka saja," ujar Agus dalam diskusi di kantor PARA Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat (9/11).
Dibanding kampanye Pilpres 2014, Arimenilai kualitas kampanye saat ini merosot. Pada Pilpres 2014 publik dikenalkan dengan istilah seperti tol laut, poros maritim, membangun negara dari pinggiran, hingga revolusi mental dari Jokowi.
"Itu jargon-jargon yang luar biasa, tapi sekarang enggak ada. Sampai sekarang Nawacita 2 belum tahu ngomong apa sih," tukas Ari. (tst/wis)