"Ini fenomena nyata dan memang terjadi. Mereka anak jalanan ini pastinya terus mencari apa yang bisa dibuat nikmat dengan cara murah," kata Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah AKBP Suprinarto di Semarang, Jawa Tengah, Senin (12/11).
Dia mencontohkan, sebelum fenomena mabuk dengan rendaman air pembalut, pernah ditemukan fenomena menghirup lem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BNN, kata dia, tidak menemukan bahan yang mengandung psikotropika atau narkotik dalam bahan pembuatan pembalut. Sebab itu, BNN tidak dapat memberikan penindakan apapun terhadap mereka yang mengkonsumsi air rendaman pembalut.
Sementara itu, Yvonne Sibuea dari Perubahan Institute, salah satu organisasi yang melakukan pendampingan para pecandu narkoba Jawa Tengah, menilai fenomena mabuk dengan air rendaman pembalut merupakan hal yang biasa di kalangan anak-anak jalanan.
Menurutnya, anak jalanan bisa mengalami enjoy dan kenikmatan yang dicari dengan harga murah.
"Kabar berita ini sudah viral bahkan sampai di luar negeri. Sebenarnya ini tren lama, sekitar 2 atau 3 tahun lalu sudah pernah ditemukan," katanya.
"Masyarakat tentunya mengalami kepanikan ketika merespon kenapa harus pembalut yang digunakan. Mau tidak mau, fenomena ini harus kita hadapi, karena ini sangat kompleks menjadi tanggung jawab kita bersama," kata Yvonne.
Budayawan Timur Suprabana mengatakan dalam pergaulan masyarakat luas, mabuk rendaman pembalut bukan satu hal yang menjijikkan. Jamur yang terdapat di kotoran sapi juga sempat menjadi tren sebagai bahan yang dikonsumsi untuk bisa mabuk.
Namun seiring perkembangan jaman, pastinya tren-tren ini akan berlalu dan tergantikan dengan yang baru.
"Siapa tahu besok rendaman cucian yang sudah tiga hari juga bisa buat fly meski baunya tak karuan. Jadi logika kita berbeda dengan anak-anak jalanan ini. Kita harus bisa memahami," ujarnya.