Air Pembalut, Siasat 'Ngefly' Murah ala Anak Jalanan

CNN Indonesia | Selasa, 13/11/2018 10:57 WIB
Air Pembalut, Siasat 'Ngefly' Murah ala Anak Jalanan Ilustrasi Pembalut. (Istockphoto/ppengcreative)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena mabuk yang dilakukan anak-anak jalanan di Jawa Tengah dengan cara meminum air rendaman pembalut dianggap merupakan fenomena anak jalanan yang ingin mencari kenikmatan dengan harga murah. Fenomena itu bukanlah hal baru, tapi sudah lama ditemukan. Fenomena ini akan cepat berganti bila ada cara yang lebih murah ketimbang harga pembalut.

"Ini fenomena nyata dan memang terjadi. Mereka anak jalanan ini pastinya terus mencari apa yang bisa dibuat nikmat dengan cara murah," kata Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah AKBP Suprinarto di Semarang, Jawa Tengah, Senin (12/11).

Dia mencontohkan, sebelum fenomena mabuk dengan rendaman air pembalut, pernah ditemukan fenomena menghirup lem.


"Sekarang lem mahal, dulu dengan alkohol, kini alkohol juga mahal. Setelah dicoba dengan pembalut, ada kenikmatan untuk fly dan harga murah, Rp10 ribu dapat tiga atau enam lembar, akhirnya mereka meneruskan dengan pembalut," katanya. "Tapi tren ini juga nantinya akan bergeser jika mereka menemukan lagi bahan yang lebih murah, misal hanya dengan buah atau daun apa."

BNN, kata dia, tidak menemukan bahan yang mengandung psikotropika atau narkotik dalam bahan pembuatan pembalut. Sebab itu, BNN tidak dapat memberikan penindakan apapun terhadap mereka yang mengkonsumsi air rendaman pembalut.

"Penindakan hukum kita tidak bisa. Temuan fenomena ini lebih sifatnya informatif, untuk pencegahan kita. Kami menghimbau saja untuk masyarakat agar lebih memperhatikan keluarganya," kata Suprinarto.

Sementara itu, Yvonne Sibuea dari Perubahan Institute, salah satu organisasi yang melakukan pendampingan para pecandu narkoba Jawa Tengah, menilai fenomena mabuk dengan air rendaman pembalut merupakan hal yang biasa di kalangan anak-anak jalanan.

Menurutnya, anak jalanan bisa mengalami enjoy dan kenikmatan yang dicari dengan harga murah.

"Kabar berita ini sudah viral bahkan sampai di luar negeri. Sebenarnya ini tren lama, sekitar 2 atau 3 tahun lalu sudah pernah ditemukan," katanya.
Tapi, kata Yvonne, masyarakat baru bereaksi sekarang.

"Masyarakat tentunya mengalami kepanikan ketika merespon kenapa harus pembalut yang digunakan. Mau tidak mau, fenomena ini harus kita hadapi, karena ini sangat kompleks menjadi tanggung jawab kita bersama," kata Yvonne.

Budayawan Timur Suprabana mengatakan dalam pergaulan masyarakat luas, mabuk rendaman pembalut bukan satu hal yang menjijikkan. Jamur yang terdapat di kotoran sapi juga sempat menjadi tren sebagai bahan yang dikonsumsi untuk bisa mabuk.

Namun seiring perkembangan jaman, pastinya tren-tren ini akan berlalu dan tergantikan dengan yang baru.

"Siapa tahu besok rendaman cucian yang sudah tiga hari juga bisa buat fly meski baunya tak karuan. Jadi logika kita berbeda dengan anak-anak jalanan ini. Kita harus bisa memahami," ujarnya.
(dmr)


ARTIKEL TERKAIT