Hal itu dikatakan Adi merespons pernyataan Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi yang menyebut kondisi Tanah Abang kini semakin kumuh. Kekumuhan itu membuat Presiden Joko Widodo tak mau lagi mengajak tamunya berkunjung ke sana.
"Kalau kumuh lagi yang mananya kumuh lagi. Kan, sangat kompleks, dari sampah ada dari kendaraan kan di sana juga kendaraan," kata Adi saat dihubungi, Selasa (13/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Solusi lain untuk menata kawasan Tanah Abang adalah dengan memindahkan para pedagang ke skybridge.
Ia mengklaim pemindahan pedagang ke skybridge mendapat tanggapan baik dari para pedagang.
"Setahu saya pas soft launch itu, mereka (pedagang) sangat happy lah dapat tempat gitu, daripada mereka di bawah diusir-usir, ada fasilitas yang disediakan pemerintah," katanya.
Nantinya akan ada 446 kios yang disediakan bagi para pedagang untuk berjualan di skybridge. Para pedagang itu diharuskan membayar service charge sejumlah Rp500.000 per bulan untuk biaya kebersihan, keamanan, dan penerangan.
Pembangunan skybridge sudah tiga kali melewati target. Awalnya pembangunan skybridge ditargetkan selesai pada 15 Oktober, namun target itu meleset.
Kemudian, PD Pembangunan Sarana Jaya menargetkan skybridge bakal selesai pada akhir Oktober. Tapi, target itu lagi-lagi meleset.
Di awal November, Dirut PD Pembangunan Sarana Jaya Yoory C Pinontoan sempat menyatakan bahwa pihaknya bakal merampungkan pembangunan pada 9 atau 10 November. Tapi, nyatanya, hingga saat ini pembangunan tak juga selesai.
Terakhir, Jokowi mengajak Ketua Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde berkunjung ke Pasar Blok A Tanah Abang 26 Februari 2018 lalu.
"Sekarang presiden enggak berani (mengajak tamu ke Tanah Abang) karena kekumuhan itu," ujar Prasetio, Senin (12/11). (dis/wis)