Rombongan kecil ini terdiri dari 9 orang tunanetra yang tergabung dalam Persatuan Aksi Sosial Tunanetra Indonesia (Pasti) yang. Mereka berbaris rapi di depan gedung MUI sembari memegang poster bergambar Ma'ruf Amin. Sesekali ada pekik takbir di sela orasi.
"Melalui gerakan moral ini, kami menuntut KH Ma'ruf Amin untuk mengklarifikasi dan meminta maaf disabilitas, khususnya tunanetra dan tunarungu-wicara," ujar Ketua Pasti, Arif Nur Jamal di depan kantor MUI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam acara itu Ma'ruf menyindir pihak-pihak yang kerap mengkritik kinerja Presiden Jokowi sebagai orang-orang budek dan buta.
"Tak ada konteks buta (fisik). Saya cuma bilang, yang tak mengakui itu kayak orang buta karena tak mau melihat. Kayak orang budek karena tak mau mendengar. Kayak orang bisu yang tak mau ungkapkan kebenaran. Itu saja sebenarnya. Kalimat itu juga biasa bunyi di Alquran. Lihat saja di Alquran kalau tak percaya," kata Ma'ruf.
Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono |
Yogi Matsoni, salah seorang peserta aksi mengatakan klarifikasi yang sudah disampaikan Ma'ruf tidak cukup. Ia beralasan dalih Ma'ruf yang menyangkutpautkan istilah budek-tuli dengan penggalan ayat Alquran itu terlampau jauh.
"Ini hanya gerakan moral, bukan hanya kepada Ma'ruf Amin tapi ke siapa saja, ya, bahwa kampanye ada batasan untuk tidak menyinggung disabilitas," kata Yogi.
"Kalau tidak diindahkan akan menuntut dengan massa lebih besar dan membawa ini ke jalur hukum," kata Arif.
Aksi para penyandang disabilitas ini tak berlangsung lama. Mereka membubarkan diri setelah orasi dan unjuk rasa sekitar 30 menit.
Pada Senin (12/11) lalu, protes serupa terjadi di Bandung oleh Forum Tunanetra Menggugat. Mereka menuntut Ma'ruf meminta maaf atas istilah budek dan tuli yang ia ucapkan dalam waktu 10 hari sejak protes itu digelar. (bin/wis)
Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono