Saran tersebut dilontarkan Raja Juli merespons deretan permintaan maaf yang disampaikan Prabowo maupun Sandi kepada publik sepanjang kampanye Pilpres 2019.
Dahnil mengatakan permintaan maaf yang disampaikan Prabowo-Sandi itu menunjukkan sikap rendah hati, sehingga meminta maaf atas kesalahan kecil yang mereka lakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap kesalahan yang dilakukan justru dengan angkuh melakukan pembenaran bahkan kebohongan-kebohongan," kata Dahnil kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/11).
Selain itu, kata Dahnil, keangkuhan pasangan Jokowi-Ma'ruf salah satunya dengan menyebut mereka yang berbeda sikap politik dan mengkritik sebagai orang 'budek dan tuli'. Kata dia, pernyataan yang terlontar dari Ma'ruf Amin itu terkesan menghina kaum difabel.
"Tidak satu pun kata maaf yang disampaikan. Yang terjadi justru produksi kebohongan baru dengan penuh keangkuhan," ujar Dahnil.
Lebih lanjut, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu menyatakan bahwa pasangan Prabowo-Sandi tidak ingin melakukan kebohongan dengan penuh keangkuhan tersebut.
"Karena bagi beliau berdua kejujuran dan kerendahan hati kepada rakyat penting dihadirkan. Karena politik bukan sekadar menang kalah, tapi politik adalah kesempatan untuk menunjukkan keadaban publik yang tinggi," kata Dahnil.
Pasangan Prabowo-Sandi terhitung sudah tiga kali meminta maaf kepada masyarakat sepanjang gelaran kampanye pilpres.
Rinciannya, Prabowo meminta maaf sebanyak dua kali kepada masyarakat terkait kasus kabar bohong alias hoaks Ratna Sarumapet dan kasus 'tampang Boyolali'.
Baru-baru ini, Sandi pun turut meminta maaf kepada masyarakat karena melangkahi makam tokoh Nahdhatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri saat berziarah. (fra/osc)