Namun dugaan Eggi itu dibantah oleh Ketua Bidang Advokasi dan Hukum Demokrat Ferdinand Hutahaean.
"Saya menduganya SBY masih kecewa AHY tak jadi cawapres Prabowo," kata Eggi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui akun twitter @SBYudhoyono, SBY mengatakan, "Saat ini rakyat ingin dengar dari Capres apa solusi, kebijakan & program yang akan dijalankan untuk Indonesia 5 tahun ke depan *SBY*"
Eggi mengatakan seharusnya SBY berkomunikasi dan meminta visi misi itu langsung kepada Prabowo dan Sandi. "Ada dua hal yang harus dicermati, apakah SBY tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Mengapa harus langsung ke publik," kata Eggi.
Menurut Eggi, cuitan SBY itu patut dipertanyakan. Bahkan, Eggi mengeluarkan istilah 'Musyrik Politik' untuk menggambarkan permainan politik yang dimainkan SBY.
"Dalam kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah, tiada Tuhan selain Allah, begitu juga di Pilpres saya gunakan istilah Musyrik Politik. Kalau sudah mendukung Prabowo, jangan melirik ke Jokowi, jangan ambivalen," kata Eggi.
"Tidak benar SBY kecewa, kami sudah menerima dan mendukung Prabowo," kata Ferdinand kepada CNNIndonesia.com.
Namun, kata Ferdinand, SBY dan Demokrat belum secara resmi menerima visi-misi Prabowo-Sandi sehingga sulit untuk mengampanyekan pasangan capres-cawapres itu.
"Apa yang mau dikampanyekan? turunan visi-misi belum kami terima," katanya.
Kata Ferdinand, seharusnya Prabowo-Sandi aktif berkomunikasi dengan Demokrat dan SBY.
"Kami ini kan hanya support, bukan kami yang seharusnya aktif memang semua saling membutuhkan, tapi SBY ini posisinya lain, apalagi SBY kan sudah pernah menjadi presiden selama 10 tahun," kata Ferdinand, "intinya komunikasi aktif."
Ketika ditanya soal pernyataan Eggi yang menyebut sikap SBY adalah 'Musyrik Politik', Ferdinand enggan menanggapinya.
"Saya anggap itu tidak lebih sebagai petasan, dia sering berlebihan berkomentar, tapi tidak berbobot," katanya.