Bentuk pelanggaran ini pun diakui Romli berupa penerbitan Peraturan Daerah (Perda) yang mendiskriminasi golongan atau pemeluk agama tertentu yang menjadi bagian minoritas di suatu daerah.
"Karena ada persoalan kebijakan diskriminatif makanya munculah aksi intoleransi ini. Sedangkan pemerintah kemudian tak berani mengoreksi karena alasan elektoral sekaligus pembuat kebijakan," kata Romli di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (16/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, dia juga menyoroti kebijakan yang mewajibakan warga untuk baca Al Quran dan salat berjamaah di beberapa daerah. Bagi dia, peraturan ini justru menimbulkan perilaku syirik karena mejalankan salat lantaran takut kepada Satpol PP, bukan karena Tuhan.
"Gara-gara aturan itu, solat menjadi syirik karena takut kepada Satpol PP kalau tidak dilakukan dan takut jenjang karirnya terhambat apabila tidak mengikuti kebijakan tersebut," katanya. (tst/osc)