Baiq Nuril Laporkan Mantan Atasannya Pasal Pelecehan

CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 12:56 WIB
Baiq Nuril Laporkan Mantan Atasannya Pasal Pelecehan Baiq Nuril didampingi tim advokasi menyambangi Polda NTB, Senin (19/11). Kedatangannya untuk melaporkan mantan kepala SMAN 7 Mataram atas tindakan pelecehan. (CNN Indonesia/Fachri Fachrudin)
Mataram, Lombok, CNN Indonesia -- Mantan pegawai honorer SMAN 7 Mataram, Baiq Nuril Maknun telah melaporkan Muslim, mantan kepala sekolah tersebut ke Polda Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (19/11).

Dalam laporan ini, Nuril melaporkan Muslim telah melanggar Pasal 294 ayat 2 butir 1 KUHP atas tindakan tidak senonoh seorang atasan kepada bawahannya.

"Laporan terkait perbuatan pencabulan dari pimpinan ke bawahan," ujar anggota tim kuasa hukum Nuril, Yan Mangandar Putra di Polda NTB, Mataram.



Ancaman pidana dari jeratan pasal tersebut paling lama hukuman penjara selama 7 tahun.

Yan mengatakan barang bukti awal yang disampaikan dalam pelaporan adalah berkas putusan Pengadilan Negeri Mataram pada kasus pelanggaran UU ITE atas terdakwa Nuril.

Di dalamnya memuat pengakuan Muslim perihal perbincangan yang tidak pantas kepada Nuril. Nantinya, pihaknya juga akan menyerahkan rekaman percakapan tersebut.

"Dalam persidangan, M (Muslim) mengakui telah menelepon Nuril. Kemudian cerita sesuatu yang tidak layak sebagaimana pimpinan, yakni aktivitas seksualnya untuk munculkan birahi," kata Yan.

Ketika disinggung kenapa pelaporan terhadap Muslim baru dilakukan sekarang, Yan mengatakan sebelumnya proses hukum atas laporan Muslim masih berjalan. Sehingga pihaknya harus menunggu putusan berkekuatan tetap pengadilan terlebih dahulu.

"Karena ketentuan hukumnya selama ini terkait tindak pidana yang dalam proses. Kalau mau dilaporkan balik, harus menunggu inkrah dulu," ujarnya.

Nuril menjadi sorotan publik setelah rekaman pembicaraan tak senonoh Muslim beberapa tahun silam beredar. Nuril membantah telah menyebarkan rekaman itu. Namun ia bicara kepada Imam Mudawin, rekan kerjanya perihal perilaku Muslim dan rekaman tersebut.

Beberapa waktu kemudian Imam mendesak Nuril agar diperbolehkan menyalin rekaman. Setelah itu, rekaman tersebar ke pegawai di sekolah.

Muslim kemudian melaporkan Nuril ke Polres Mataram atas dugaan melanggar Pasal 27 ayat (1) UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Pengadilan Negeri Mataram memutuskan Nuril tidak bersalah karena tidak terbukti mendistribusikan mentransmisikan atau membuat dapat rekaman tersebut diakses publik.

Namun Jaksa Penuntut Umum mengajukan banding hingga kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Lembaga pengadilan tertinggi ini justru memutuskan bahwa Nuril bersalah dan menjatuhkan vonis enam bulan penjara dan denda sebesar Rp500 juta.

(fhr/kid)