Fadli menilai pengumuman yang dilakukan BIN itu berpotensi menimbulkan kecurigaan karena tidak disampaikan kriteria tempat yang terindikasi terpapar paham radikal.
"Saya kira pengumuman-pengumuman seperti ini justru membuat kegaduhan baru. Karena kita tidak jelas kriteria-kriterianya seperti apa," ujar Fadli di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (21/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mau terbuka sekalian transparan. Apa yang dimaksud dengan radikalisme, apa yang dimaksud terpapar radikalisme, kriteria-kriterianya seperti apa, ajaran-ajarannya seperti apa, sekalian transparan," ujarnya.
Selain itu kata Fadli, sebagai lembaga intelijen, BIN lebih fokus untuk menunjang program deradikalisasi yang dilakukan pemerintah. Dia pun mempertanyakan keberhasilan program tersebut.
"Jadi harusnya program itu yang harusnya dievaluasi, apakah program ini berjalan atau tidak, deradikalisasi ini," kata dia.
"Dia [BIN] kan lebih banyak harus hanya berbisik pada telinga satu orang, yaitu telinga Presiden," kata Fahri terpisah.
Untuk mengumumkan atau mengungkap sebuah informasi kepada publik, kata Fahri, seharusnya dapat dilakukan lembaga lain yang lebih berwenang. Jika BIN melakukan ini dikhawatirkan akan menurunkan reputasi lembaga tersebut.
Sebelumnya, BIN mengungkap temuan 41 masjid di lingkungan pemerintah yang terindikasi terpapar radikalisme. Temuan tersebut merupakan hasil survei oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Nahdlatul Ulama.
Temuan itu diungkapkan Staf Khusus Kepala BIN Arief Tugiman, dalam diskusi Peran Ormas Islam dalam NKRI di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Jakarta, Sabtu (17/11). (swo/eks)