Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto mungkin tak pernah mengunjungi Pasar Ciputat. Namun pernyataanya soal harga sembako mendapat beragam tanggapan dari orang-orang di pasar itu.
Titiek, putri penguasa Orde Baru, Soeharto, menyinggung harga pangan di era Presiden Jokowi saat berkampanye untuk Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Cilegon, Banten.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin lebar. Ibu-ibu punya uang sekarang Rp50 ribu, Ibu-ibu bisa beli apa kalau ke pasar? Sementara yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin," kata Titiek, Rabu (14/11).
Yenna adalah ibu dengan tiga anak. Ditemui di Pasar Ciputat, wanita 38 tahun ini mengaku beberapa kali membawa uang Rp50 ribu untuk berbelanja.
"Anak dua yang jelas makan. Kalau anak yang gede sama suam makan siang di luar. Suka enggak dihitung. Biar enggak kebuang. Sama saya ya bertiga, ya dua kali [makan]," kata Yenna.
Rosita, 48 tahun, terang-terangan menyatakan tak cukup jika harus berbelanja di pasar bermodal Rp50 ribu.
Keluarga Rosita berjumlah lima orang. Untuk memenuhi kebutuhan makan seluruh anggota keluarga Rosita mengaku sedikitnya harus mengeluarkan Rp100 ribu per hari saat belanja di Pasar Ciputat.
"Itu (Rp 100 ribu) sudah minim. Pasti habis, tuh. Beras, minyak segala. Dua kali makan. Beras Rp15 ribu sehari. Buat makan saja, ya di luar transport," ujarnya.
Pedagang sayuran di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (22/11). (CNN Indonesia/Aini Putri) |
Di Pasar Ciputat CNNIndonesia.com membeli 0,5 kg ayam dengan harga Rp18 ribu, satu blok tempe dibeli seharga Rp3 ribu, serta sayur-sayuran seperti wortel, buncis, kol, daun bawang, dan daun selederi untuk memasak sayur sop dengan harga Rp10 ribu.
Tiga buah kentang dan bahan-bahan membuat sambal juga dibeli masing-masing seharga Rp7 ribu dan Rp5 ribu. Tak lupa, bumbu pelengkap dibeli dengan harga Rp5 rupiah.
Semua bahan itu total menghabiskan Rp48 ribu. Uang sebesar Rp50 ribu kini tersisa Rp2 ribu.
Tanpa minyak goreng, semua bahan itu jadi sia-sia. Terpaksa CNNIndonesia.com membeli minyak goreng 900 ml seharga Rp12 ribu, plus bumbu seperti lada dan garam dengan harga murah Rp2 ribu.
Dengan tambahan itu CNNIndonesia.com harus merogoh kocek total sebesar Rp62 ribu. Di rumah, sayur sop plus ayam hasil belanja di Pasar Ciputat itu hanya bisa dimakan dua kali untuk lima anggota keluarga.
Di Pasar Mampang Jaya uang Rp50 ribu bisa membeli tiga ekor ikan kembung segar (Rp5 ribu), tahu (Rp3 ribu), sebalok tempe (Rp5 ribu) serta bumbu seperti cabe, tomat, bawang merah dan bawang putih masing masing sebanyak 1 ons seharga Rp15 ribu.
Untuk sayuran dibeli bayam satu ikat Rp5 ribu. Seperempat kilogram dibeli dengan harga Rp4 ribu serta telur seperempat kilogram Rp6 ribu.
Bahan lain yang dibeli adalah bumbu dapur Rp4.500 dan kentang Rp5 ribu. Minyak goreng tak terbeli karena CNNIndonesia.com sudah menghabiskan uang Rp50.500.
Selain tanpa minyak goreng dan beras, CNNIndonesia.com terpaksa harus pulang ke rumah dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar 3 kilometer.
Eksperimen yang dilakukan CNNIndonesia.com membenarkan sindiran Titiek Soeharto mengenai mahalnya harga di pasar. Tetapi Surtini punya pendapat berbeda.
Perempuan yang sudah berdagang 15 tahun di Pasar Ciputat itu mengatakan harga di pasar memang tidak stabil alias fluktuatif, tergantung pasokan barang. Maka wajar jika uang Rp50 ribu tak cukup memenuhi kebutuhan makan sekeluarga dalam satu hari.
"Wortel tadinya Rp12 ribu, sekarang jadi Rp16 ribu sekilo. Bawang merah sekarang sekitar Rp28-Rp30 ribu. Tadinya Rp24 ribu sekilo. Barang-barang pada kosong, yang mahal itu barang-barang pada kosong," kata Surtini sambil memperlihatkan barang dagangannya.
Sementara itu Badrudin, pedagang ayam di Pasar Mampang Jaya, mengamini sindiran Titiek kepada pemerintah. Dia sekaligus menyebut ada penafsiran yang salah dari masyarakat terhadap pernyataan Titiek.
"Mungkin maksudnya kalo beli bahan bahan ditambah daging seekor enggak dapet Rp50 ribu," kata Badrudin.
Politikus Partai Berkarya Titiek Soeharto turut memainkan politik pasar guna mendukung Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019.(CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Orang kecil belinya setengah, ibu-ibu rumah tangga belanja kalo untuk sekeluarga paling beli sayuran, bayam seiket, jagungnya satu, kalo orang kaya tentu beda," kata dia.
'Politik Pasar' yang digaungkan Titiek Soeharto sebenarnya bukan isu baru. Kubu Prabowo-Sandi sudah menjual isu ini sejak awal kampanye. Pasangan itu memang memberi porsi yang besar untuk persoalan ekonomi.
Jika Prabowo bicara ekonomi makro seperti soal pertumbuhan ekonomi, dominasi asing pada sejumlah sumber daya nasional, maka Sandi menyasar ekonomi mikro yang menjadi perhatian masyarakat menengah ke bawah.
Sandi fokus blusukan ke pasar-pasar tradisional hampir di setiap kampanyenya. Dia juga pernah memantik kontroversi saat menyinggung soal penipisan ukuran tempe sebagai imbas kenaikan harga bahan pokok.
Singgungan Sandi direspons oleh calon petahana Joko Widodo dengan blusukan ke sejumlah pasar. Di Pasar Surya Kencana, Bogor, Selasa (30/10) lalu, Jokowi membeli tempe dan memastikan tidak ada kenaikan harga di pasar.
Di sana Jokowi juga mengingatkan orang-orang untuk tidak membesar-besarkan harga di pasar tradisional.
"Jangan sampai ada yang masuk ke pasar barang-barang mahal. Orang enggak ada yang berani ke pasar lagi. Hati-hati," tutur mantan Gubernur DKI Jakarta ini.
Dampak Psikologis
Direktur Penelitian di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal melihat tidak ada kaitannya antara politisasi harga pasar dengan dampak psikologis masyarakat yang bisa memicu kenaikan harga.
Karakter perekonomian di pasar berbeda dengan nilai tukar rupiah. Dalam konteks nilai tukar, kata Faisal, memang dikenal pengaruh psikologis yang bersumber dari faktor-faktor nonekonomi. Hal demikian tak berlaku di pasar. Stabilitas harga di pasar lebih disebabkan faktor riil seperti jumlah produksi, distribusi dan lainnya.
"Mungkin faktor-faktor psikologis bisa jadi, tapi untuk saat ini saya belum melihat itu. Jadi karena ada orang yang mengompori kemudian harga menjadi naik itu belum," kata Faisal kepada CNNIndonesia.com.
Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno saat berkunjung di salah satu pasar tradisional. Sandi kerap melemparkan isu harga pasar yang mengalami kenaikan. (CNN Indonesia/Tiara Sutari) |
Sementara itu sejumlah pedagang dan pembeli di Pasar Ciputat menilai politisasi harga di pasar dan perdebatan soal itu tidak mempengaruhi kondisi ekonomi di pasar yang diharapkan bisa membaik.
"Sekarang ngomong murah, murah, murah, nanti tau-tau juga mahal, sama saja. Kalau menurut ibu, seandainya jadi presiden, kalau barang kosong masak tetep turun. Ya enggak mungkin. Sama aja," keluh Surtini.
Surtini juga mengaku perdebatan harga pasar yang dimunculkan oleh kubu Prabowo maupun Jokowi tak memengaruhi pilihan politiknya. Sementara Yenna menganggap perdebatan harga di pasar tak lebih sekadar usaha pencitraan dari kedua paslon.
'
Alih-alih memahami pasar, Yenna justru mencurigai kedua paslon tidak pernah mengetahui keadaan pasar yang sesungguhnya.
"Itu mah pencitraan. Biasa belanja di supermarket. Enggak tau yang di pasar. Kalau datang kan dengan segala macem, wartawan ikut, ribet. Mereka enggak tau lah," kata Yenna. (fir/ani/wis)
Pedagang sayuran di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (22/11). (CNN Indonesia/Aini Putri)
Politikus Partai Berkarya Titiek Soeharto turut memainkan politik pasar guna mendukung Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019.(CNN Indonesia/Andry Novelino)
Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno saat berkunjung di salah satu pasar tradisional. Sandi kerap melemparkan isu harga pasar yang mengalami kenaikan. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)