Dia menganggap ada desakan terhadap pihak Buperta dan Kwartir Nasional Pramuka agar tak mengizinkan acara yang menjadi rangkaian Reuni Alumni 212 tersebut.
Buperta tidak mengizinkan PA 212 menggelar Jambore Relawan Nasional 212 di Buperta Cibubur, Jakarta Timur pada 30 November-1 Desember mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Slamet juga menuding ada oknum intelijen yang meminta pengelola Buperta agar membatalkan acara jambore dimaksud. Slamet tidak merinci. Dia hanya menyebut ada 5 oknum intelijen yang melakukan hal tersebut.
Slamet tidak menjelaskan lebih rinci kubu sebelah yang dimaksud pada pernyataannya. PA 212 sendiri pada Ijtima Ulama 2 secara resmi memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019.
Namun, Buperta tidak mengizinkan Jambore Relawan 212 dilaksanakan di Cibubur. Merujuk dari surat yang diterima CNNIndonesia.com, pihak Buperta tidak mengizinkan atas arahan dari pimpinan Kwarnas Pramuka.
"Bersama surat ini kami sampaikan sesuai arahan dan petunjuk pimpinan Kwartie Nasional agar Buperta bersikap Netral dan tidak berpihak kepada siapapun dalam kondisi Pilpres, Pileg dan Pemilihan DPD," mengutip bunyi kalimat dalam surat.
Surat itu ditujukan Buperta kepada Panitia Jambore Nasional Relawan 212. Surat ditandatangani Kepala Buperta Pramuka Achmad Mardianto tanggal 22 November 2018. Nomor surat tersebut yakni 149.BPT.K.11.2018.
"Maka selaku pimpinan Buperta membatalkan pesanan reservasi Panitia Jambore Relawan 212," mengutip bunyi kalimat dalam surat.
"Iya benar. Kami sangat kecewa," kata Slamet saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Jumat (23/11).
CNNIndonesia.com sudah menghubungi nomor telepon yang tercantum dalam surat. Namun pegawai yang bertugas mengaku tidak tahu-menahu hal itu. Dia pun keberatan memberikan nomor telepon pimpinan Buperta Pramuka.
"Maaf saya baru masuk siang. Nomor kontak juga maaf tidak bisa diberikan," ucap Anto saat dihubungi.
CNNIndonesia.com Juga telah menghubungi dua nomor ponsel Kepala Kwartir Nasional Pramuka Budi Waseso. Namun sedang tidak dapat dihubungi.
Tim Jokowi Sebut Tak Intervensi
Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga memastikan Jokowi-JK tak pernah melakukan intervensi terhadap perizinan acara tersebut. Arya menyebut tuduhan itu sama dengan menyebarkan kabar bohong (hoaks) kepada masyarakat.
"Itu kan namanya menyebar hoaks juga, jangan nuduh sembarangan tanpa data yang kuat," kata Arya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (23/11).
Arya menegaskan bahwa Kwarnas Pramuka merupakan organisasi independen yang tak bisa diintervensi pemerintah. Oleh karenanya, pemerintah tak punya urusan sama sekali terkait proses perizinan maupun berlangsungnya acara tersebut.
"Kita kan tahu Kwarnas Pramuka itu independen, punya lembaga sendiri yang bukan dibawah negara, kemarin saja sempat berbeda pendapat dengan pemerintah kok mereka," kata dia. (rzr/osc)