"Parmusi mengarahkan para kader dan da'i untuk memilih figur caleg dan capres-cawapres yang taat beribadah," ucap Usamah saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (27/11).
Usamah sebelumnya mengundurkan diri dari anggota penasihat Persaudaraan Alumni 212. Menurutnya, gerakan PA 212 sudah tidak sesuai dengan semangat awal, yakni aksi bela Islam yang berangkat dari esensi Al Maidah 51.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak memilih partai, tapi memilih orang. Partai apapun silakan asalkan taat beribadah. Yang tahu ya orang setempat. Pasangan yang taat beribadah sesuai penilaian masing -masing," ujar Usamah.
Dia mengklaim Parmusi sudah memutuskan sikap tegas berdasarkan Mukernas 24-26 September lalu di Gunung Gede-Pangrango.
"Keputusannya bahwa Parmusi sebagai institusi tidak akan menentukan pilihan," kata Usamah.
"Kalau bukan Habib Rizieq, ya Zulkifili Hasan, atau Yusril Ihza, atau Tuan Guru Bajang. Kalau tentara, kan ada Gatot Nurmantyo yang lebih dekat dengan Islam," ucap Usamah.
Usamah pun menilai 17 poin yang dihasilkan dalam Ijtima Ulama tidak sesuai dengan semangat PA 212 yang selama ini mendambakan penerapan syariat Islam. Dia menyebut tidak ada satu pun poin yang menyinggung penerapan syariat Islam.
"Ada enggak yang mengatakan kata ekonomi syariah misalnya. Ada enggak? Satu pun enggak ada. coba cek. kenapa ini enggak ada? Katanya yang mau perjuangkan syariat Islam," ucap Usamah.