Lewat Seni, Mereka Melawan Kekerasan terhadap Perempuan

CNN Indonesia | Rabu, 28/11/2018 13:27 WIB
Lewat Seni, Mereka Melawan Kekerasan terhadap Perempuan Perjuangan antikekerasan terhadap perempuan juga dilakukan melalui seni. Pemerintah pun didesak menyiapkan payung hukum untuk menyetop kasus tersebut. (CNN Indonesia/LB Ciputri Hutabarat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Don't teach how to dress
Teach your brain about humanity

Sepenggal lirik lagu berjudul Sister in Danger itu dinyanyikan Simponi Band pada Seminar 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Lagu ini pernah memenangkan kompetisi Sounds of Freedom 2014 di Inggris.

Lagu ini bercerita soal isu kekerasan seksual terhadap perempuan. Semua personel Simponi adalah laki-laki, pihak yang disebut paling banyak melakukan kekerasan seksual. Namun pentolan band ini M. Berkah Gamulya alias Mulya punya alasan sendiri membawa isu perempuan.


"Supaya perempuan memiliki 'teman' dan aktivis perempuan lainnya tidak merasa sendiri. Mereka punya aliansi yang di dalamnya diisi laki-laki juga," kata Mulya saat berbincang kepada CNNIndonesia.com di Jakarta, Selasa (27/11).


Enam tahun menyuarakan isu perempuan membuat para personel Simponi menyadari bahwa musik merupakan media yang tepat untuk menyampaikan pesan tersebut kepada laki-laki.

"Kaum kami adalah kaum yang paling banyak melakukan kekerasan. Tapi bukan berarti yang tidak melakukan kekerasan tidak ada. Nah, yang tidak melakukan (kekerasan) justru yang mengingatkan," kata Mulya.

"Lagu ini kami pakai untuk internal kami (pria) dan mengontrol diri kami sendiri, mendidik diri kami sendiri untuk adil gender. Ini edukasi buat para pria juga," lanjut dia.

Menurut Mulya, isu perempuan dan gender masih sangat tabu diperbincangkan di Indonesia. Kekerasan terhadap perempuan masih berlanjut dan korbannya semakin banyak.

"Kekerasan ini diteladankan. Oleh karena itu perlu ada aturan dari pemerintah mengenai hal ini," tambahnya.


Sebagai pegiat seni, Mulya perlu mengingatkan banyak pihak bahwa perempuan bukan objek kekerasan.

Band yang diisi Ahmad Satria Landika (gitaris), Prima Antaridha Mukhti (vokalis), Gilang Galisca Caraka (drum), Rizal Muchlison (bass) dan M. Fahrevi (guitar, vocal) memiliki lagu lain terkait perjuangan kesetaraan perempuan.

"Perempuan dan Berebut Surga juga menceritakan hal serupa. Perempuan berdasarkan dari kata empu yang artinya yang ahli yang mampu dan itulah perempuan," kata Mulya.

Mendobrak Kekerasan Seksual terhadap Perempuan Lewat SeniSimponi tampil di acara seminar 16 Hari Antikekerasan terhadap Perempuan. (CNN Indonesia/LB Ciputri Hutabarat)
Simponi juga kerap berdiskusi dan sambil memainkan musik bertema sosial ke sejumlah sekolah, universitas dan organisasi.

"Karena kami anak band, kami melakukan sesuatunya lewat musik, lewat lagu dan lirik. Mudah-mudahan ada yang dengar dan mudah-mudahan ada yang menyimak," katanya.

Berbeda dengan Mulya dengan Simponi Band nya, Ayu Maulani berjuang lewat seni instalasi. Karya seni instalasi miliknya ditampilkan di acara seminar yang sama.

Salah satu sudut di lokasi seminar itu disulap Ayu menjadi sebuah 'Lorong Kekerasan Perempuan'. Lorong itu hanya ditutup kain putih dan dicat warna-warni tak beraturan, namun tetap indah.


Di langit-langit lorong itu digantungkan sejumlah hasil penelitian dari organisasi perempuan Mahardhika. Isi tulisan itu semacam bentuk-bentuk kekerasan yang diterima perempuan dan seberapa sering perempuan menerima kekerasan itu.

"Supaya kasih tahu ke perempuan lain soal isu ini dengan gaya yang ringan salah satunya lewat seni ini," kata Ayu kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Ayu, seni menjadi salah satu jalan tengah untuk menyampaikan edukasi soal perempuan masa kini. Buku setumpuk dan sejumlah penelitian mungkin tidak akan terbaca dengan kaum milenial yang memiliki fleksibilitas tinggi.

"Sekarang siapa sih yang setuju sama kekerasan perempuan? Jadi pelaku seni cara aku buat fight itu. Okelah saya tidak terlalu pandai dalam berbicara tapi kita bisa kumpul gerakan lewat visual," katanya.
Mendobrak Kekerasan Seksual terhadap Perempuan Lewat SeniIlustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Istockphoto/lolostock)
Melawan Kekerasan

Salah satu kekerasan yang paling umum dihadapi oleh perempuan adalah siulan laki-laki di jalan. Ayu pernah diganggu di jalan oleh orang tak dikenal. Hal itu membuatnya risih. Namun Ayu tidak takut dan malah mendatangi laki-laki yang menganggunya.

"Kalau aku sih caranya tantangin pribadi supaya enggak tertekan banget. Kalau misalnya ada yang suit suitin 'yang tato..' terus aku bilang 'Kenapa? Bagus, kan?' Jadi ditantangin saja," kata Ayu yang memang punya tato di tubuhnya.

Perempuan masa kini, menurutnya, perlu berani mengungkapkan hal itu.

"Selama ini banyak yang enggak sadar kalau mentalnya di abuse. Misalnya, kalau kamu mau naik jabatan, dandan dong kamu. Nah, yang begini harus diserukan," tegas Ayu.


Gitaris dari Simponi, Gilang menyarankan hal serupa. Dia menyarankan agar perempuan berani menegur orang yang menganggu di jalan. Namun dengan beberapa catatan, asal perempuan tersebut memiliki teman di sekitarnya.

"Karena kita aja laki-laki kalau diganggu stranger di jalan risih, ya. Apalagi perempuan. Harusnya ditegur," kata Gilang.

Kegiatan tegur menegur di jalan dengan orang tidak dikenal sudah seharusnya dipahami pria sebagai hal yang mengganggu. Mereka perlu diberi edukasi dalam konteks kekerasan seksual.

"Jadi kalau pria itu mengganggu perempuan, perempuannya diam, maka dia anggap perempuannya senang dan dia akan melakukan terus. Maka dari itu si laki-laki harus di-ingetin," ujar Gilang.

Di tempat yang sama, Mulya juga berpendapat edukasi perlu diperkuat dengan wewenang pemerintah untuk menyiapkan payung hukum seperti UU Penghapusan Kekerasan Seksual dan menyiapkan kurikulum agar keadilan gender bisa dipelajari sejak dini.

"Isu ini tidak kalah penting dengan isu korupsi dan infrastruktur. Apa gunanya infrastruktur baik tapi adik kami, teman kami, pacar kami, ibu dan tante kami dalam bahaya?" kata Mulya. (ctr/pmg)