Fadli: Prabowo Marah Media Tak Terapkan Standar Jurnalistik

CNN Indonesia | Rabu, 05/12/2018 20:27 WIB
Fadli: Prabowo Marah Media Tak Terapkan Standar Jurnalistik Waketum Gerindra Fadli Zon menduga kemarahan Prabowo karena media tidak fair soal reuni 212. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai kemarahan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto kepada insan pers karena sejumlah media tidak menerapkan standar jurnalistik saat meliput aksi reuni 212 di Monumen Nasional (Monas) Jakarta.

"Saya belum mendengar persis apa yang dikatakan Pak Prabowo, tapi saya kira yang dimaksud adalah ada sejumlah media yang tidak menjalankan prosedur standar jurnalistik," ujar Fadli di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (5/12).

Fadli menduga kemarahan Prabowo terkait dengan jumlah peserta reuni akbar 212 yang disebut media namun tidak sesuai fakta di lapangan. Meskipun Fadli juga mengaku tidak mengetahui dasar Prabowo mengucapkan itu.


"Tapi saya kira nanti kita bisa lihat. Kan kalau misalnya ada orang ngumpul jutaan disebut puluhan ribu itu juga bisa disebut sebuah kebohongan juga," ujarnya.


Sementara itu, Musisi Ahmad Dhani menambahkan kemarahan Prabowo kepada media arus utama masih dalam tataran wajar. Sebab, kata Dhani, penilaian Rocky Gerung terhadap media lebih keras lagi.

"Kalau mengutip kata-katanya Rocky Gerung kalau acara 212 itu tidak diliput media itu termasuk penggelapan sejarah. Menurut saya Pak Prabowo masih terlalu halus ya," ujar Dhani seraya tertawa.

Fadli: Prabowo Marah ke Media karena Tak Terapkan Standar JurPolitikus Gerindra Ahmad Dhani sebut kemarahan Prabowo ke media terkait reuni 212 masih halus. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)

Sementara itu Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menjelaskan kemarahan Prabowo kepada media arus utama merupakan sebuah ekspresi kekecewaan.

"Saya kira ini bentuk kekecewaan Pak Prabowo yang diungkapkan kepada kawan-kawan oleh beliau. Karena beliau banyak sekali mendapat keluhan seolah-olah kok kegiatan begitu gede kok beritanya cuma begini-begini doang," kata Muzani di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (5/12).

Muzani menyadari ada keterbatasan dan kendala dalam memuat berita di sebuah media, seperti volume, ruang, maupun hal teknis dan nonteknis.


Akan tetapi, kata Muzani, terkadang selalu muncul perasaan tidak adil yang dirasakan kubu Prabowo karena proporsi pemberitaan yang tidak sesuai.

"Di lapangan sudah menceritakan begitu detail dan rapi kemudian yang diambil cuma sepotong dua potong. Kalau diambil sepotong dua potong itu masih bagus, ini kadang-kadang nggak diambil sama sekali," kata Muzani.

"Nah ini lah yang kadang-kadang menimbulkan perasaan ketidakadilan di dalam pemberitaan. Nah ini yang dikritik oleh pak Prabowo dengan kawan-kawan semuanya," ucapnya.


Sebelumnya, Prabowo menyampaikan kekesalannya kepada sejumlah media arus utama di Indonesia saat dia berpidato di acara puncak hari disabilitas Internasional, siang ini.

Dalam kesempatan itu, Prabowo mempersoalkan objektifitas media saat meliput reuni 212 di Monumen Nasional (Monas), Minggu (2/12) lalu. Prabowo menegaskan jumlah massa yang menghadiri aksi reuni 212 kemarin mencapai 11 juta peserta.

"Buktinya media hampir semua tidak mau meliput 11 juta lebih orang yang kumpul, belum pernah terjadi di dunia," tegas Prabowo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

(swo/DAL)