"Saya menilai upaya pemerintah mendorong pemberantasan korupsi Indonesia jalan di tempat. Bahkan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mendukung pemberantasan korupsi bisa dikatakan masih artifisial. Tak substantif," kata Fadli dalam akun Twitternya.
[Gambas:Twitter]
Dari data itu Fadli memaparkan pada 2017 Indonesia menduduki peringkat ke-96 dengan skor 37. Fadli berkata skor tersebut sama dengan skor pada 2016.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fadli menilai komitmen pemerintah terhadap pencegahan korupsi di tubuhnya sendiri masih lemah.
Hal itu menurutnya tercermin dari kasus korupsi yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga. Fadli mencontohkan kasus korupsi di Direktorat Pajak, Kejaksaan Agung, Kementerian Perhubungan hingga Kementerian Desa.
[Gambas:Twitter]
Lebih jauh Fadli juga menyoroti korupsi pada sejumlah proyek infrastruktur yang sedang dijalankan pemerintah. Meminjam catatan ICW pada 2017, Fadli mengatakan ada 241 kasus korupsi dan suap yang terkait pengadaan sektor infrastruktur.
Jumlah itu menjadikan sektor infrastruktur menempati posisi teratas kasus korupsi. Akibatnya, kata Fadli, negara merugi Rp1,5 triliun dengan nilai suap mencapai Rp 34 miliar.
"Saya melihat potensi pelanggaran akan semakin besar. Apalagi jika proyek infrastruktur dipaksakan untuk selesai 2019. Tentunya akan membuka celah untuk bermain-main dengan anggaran negara," kicau Fadli Zon.
Komitmen lemah pemerintah menurutnya tercermin dari berlarut-larutnya pengungkapan kasus penyidik KPK Novel Baswedan. "Presiden di awal-awal kejadian berjanji menuntaskan kasus ini," katanya.
Namun nyatanya, sudah 600 hari tak ada perkembangan nyata kasus penyiraman air keras tersebut. "Bahkan terkesan pemerintah berupaya mengalihkan tanggung jawab dan menghindar," katanya.
Menurutnya kasus Novel yang tak kunjung terungkap itu akan menjadi preseden buruk. Tak hanya bagi upaya pemberantasan korupsi, tapi juga bagi upaya penegakan hukum yang lebih luas.
Fadli mengatakan, Hari Antikorupsi seharusnya jadi momen bagi pemerintah untuk lebih serius terus mendorong agenda pemberantasan korupsi. Tidak hanya bersandar pada model pemadam kebakaran.
Fadli juga berharap pemberantasan korupsi tidak tebang pilih apalagi hanya berdasarkan kepentingan politik jangka pendek.
"Inilah tantangan besar kita sekarang," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu. (wis/sur)