"Ada (langkah counter). Rahasia karena kalau semua diomongin ketahuan," kata Ganjar di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (11/12).
Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memindahkan posko pemenangannya ke Jawa Tengah untuk memecah suara PDIP. Juru Bicara BPN Ferdinand Hutahaean menganggap PDIP dan calon presiden nomor Urut 01 Joko Widodo adalah satu kesatuan. Alhasil dengan memecah suara PDIP di sana akan terus menggerus elektabilitas Jokowi di Pemilihan Presiden 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Pemilihan Umum (Pilpres) 2014, PDIP mendominasi perolehan suara di Jateng. partai berlambang banteng moncong putih itu meraih 4.295.598 suara. Sedangkan di Pilpres, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla mendapatkan 12,9 juta suara sah, dan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa mengantungi 6,4 juta suara sah.
"Apapun yang diikhtiarkan pihak lawan menjadi warning bagi kami. Tidak boleh terlalu percaya diri dan semua harus kerja keras karena sebenarnya yang akan memenangkan ialan yang dicintai rakyat," tutur petahana ini.
"Dijaga agar tidak ada politik pecah belah, politik SARA, saling benci. Tunjukkan kehebatan dua calon presiden ini, bukan kejelekannya daripada bicara jelek kan seolah tidak punya konsep," ucap Ganjar.
Koordinator Juru BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, sebelumnya mengklaim elektabilitas pasangan nomor urut 02 di Jawa Tengah sudah cukup tinggi.
Berdasarkan survei internal BPN, Dahnil menyebut perolehan suara Prabowo Sandi hanya kalah tipis ketimbang pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.
Dahnil mengklaim perolehan suara Prabowo-Sandi melebihi 43 persen, atau lebih banyak dari perolehan suara calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said saat Pemilihan Kepala Daerah 2018.