Mereka terdiri dari keluarga korban kerusuhan misterius 1980, kerusuhan 1998, tragedi 1965/1966, tragedi Talangsari 1989, kasus pembunuhan aktivis Munir Said Thalib, hingga penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.
Mereka berdemo setelah Wakil Presiden JK hadir ke lokasi untuk menggantikan Presiden Jokowi yang semula diagendakan hadir dalam acara itu. Para demonstran berteriak meminta agar pemerintah bisa segera menyelesaikan kasus pelanggaran HAM yang menimpa mereka maupun keluarga mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, saat mereka merangsek ke arah Jusuf Kalla, yang didampingi Kepala Staf Kepresiden Moeldoko, para pedemo ini dihadang oleh aparat dan paspampres yang berjaga.
Wapres Jusuf Kalla saat berpidato di Komnas HAM Jakarta, Selasa (11/12). (CNN Indonesia/Safir Makki) |
"Jangan sampai rezim bohong kembali berbohong, menginjak-injak hak rakyat," katanya
Beberapa dari mereka bahkan menuding bahwa Jokowi, JK, serta aparat bertindak represif dengan menahan para demonstran. "Ini simbol politik, ini sikap politik," katanya.
Sementara itu, Putri Kanesia dari Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) meminta semua pihak mendesak agar Jokowi bisa segera menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat dan pelanggaran HAM lainnya secara konkrit dan akuntabel sebelum Pilpres 2019.
"Masih ada 9 kasus pelanggaran HAM berat masa lalu berdasarkan penyelidikan pro justicia Komnas HAM yang masih menggantung di Kejaksaan Agung dengan sejumlah alasan, seperti belum cukup bukti hingga belum dibentuknya pengadilan HAM ad hoc oleh pemerintah Indonesia, oleh presiden Indonesia," katanya.
Kepala Divisi Pembelaan Hak Sipil dan Politik Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Putri Kanesia. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho) |
"Menjelang berakhirnya masa pemerintahan Jokowi-Kalla tidak ada satu pun kasus yang berhasil dibawa ke pengadilan HAM ad hoc serta menggiring para pelaku untuk diadili. Padahal janji mmenyelesaikan kasus sudah masuk nawacita Jokowi-JK sejak terpilih 2014 silam," katanya.
(tst/arh)
Wapres Jusuf Kalla saat berpidato di Komnas HAM Jakarta, Selasa (11/12). (
Kepala Divisi Pembelaan Hak Sipil dan Politik Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Putri Kanesia. (