Adalah Drijon Sihotang, warga sekitar yang menolak kedatangan Sandi. Drijon memasang sebuah spandul yang intinya meminta calon wakil presiden nomor urut 02 itu pulang ke Jakarta karena dianggap memisah-misahkan.
Dalam video yang tersebar di media sosial, calon wakil presiden nomor urut 02 itu mencari pemasang poster berupa kertas karton tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa kami disuruh pulang?" tanya Sandi.
Sandi mengatakan tak mempermasalahkan pilihan Drijon itu. Lalu Sandi bertanya apakah boleh datang ke Pasar Kota Pinang itu.
"Boleh-boleh saja pak, kami tidak melarang," kata Drijon.
[Gambas:Instagram]
Sandi lalu menegaskan ia tak akan memisahkan siapapun. Kedatangannya ke pasar tersebut, kata Sandi, untuk menyerap aspirasi rakyat.
"Kalau bapak memilih Jokowi juga tidak apa-apa, kami bersahabat," kata Sandi.
Sandiaga mengucapkan terima kasih atas pemasangan poster bertuliskan, "Pak Sandiaga Uno Sejak Kecil Kami Sudah Bersahabat Jangan Pisahkan Kami Gara-gara Pilpres Pulanglah!#2019TetapJokowi Apapun Alasannya Pilihan Kami Tetap Jokowi Berapapun Angkanya Pilihan Kami Tetap 01".
Sandi menegaskan dirinya sama sekali tidak ingin memisahkan siapapun dan hanya ingin bersahabat.
"Pak Jokowi pernah ke sini?" tanya Sandi lagi.
"Belum pernah hadir pak," jawab Drijon singkat.
Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini mengatakan, dirinya berecana bertemu Jokowi pada tanggal 17 ini. Ia berjanji akan menyampaikan ke Jokowi ada warga Sumut bernama Drijon Sihotang yang mendukungnya.
Wajah Sandi dalam rekaman itu terlihat santai. Kata-katanya mengalir lancar dan terstruktur. Sandi bahkan memegang tangan Drijon hampir sepanjang dialog.
Meski singkat, namun dialog itu dinilai cukup menunjukkan kemampuan Sandi dalam mendekati dan berkomunikasi dengan rakyat di masa kampanye.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing pun mengakui kemampuan komunikasi Sandi.
Menurutnya Sandi punya kemampuan verbal dan nonverbal yang menonjol saat berkampanye.
"Gaya bahasanya tak berjarak, mudah dipahami. Pakaiannya merepresentasikan masyarakat yang dia kunjungi. Dia tampil rendah hati. Ini membuat Sandi dapat masuk ke dalam setiap segmen warga yang dikunjunginya," kata Emrus kepada CNNIndonesia.com.
Sandiaga Uno saat berkunjung di sebuah pasar di Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/R. Rekotomo) |
Emrus berkata selain berpengalaman, Jokowi juga diuntungkan karena berstatus petahana. Dalam konteks ini, apa yang diucapkan Jokowi sudah dirasakan oleh masyarakat.
"Masyarakat juga menilainya, baik itu keburukan atau kebaikan dari program Jokowi. Ini yang tidak dimiliki Sandiaga," ujar Emrus.
Emrus mengakui dalam setiap aksinya, Sandi datang dengan sederet program-program yang dikemas dengan bahasa mudah dipahami. Namun kemasan bahasa dan kemampuan komunikasi saja tak cukup untuk meraih simpati pemilih.
Setidaknya, ada beberapa hal yang jadi sorotan Emrus. "Pertama, program-program yang ditawarkan belum menjawab kebutuhan masyarakat," kata Emrus.
Sandiaga Uno di Thamrin City. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Meski demikian Emrus menilai apa yang ditawarkan Sandi itu masih kurang karena tidak dielaborasi lebih jauh lagi.
"Perlu dielaborasi lagi. Misalnya, dari mana uang untuk membiayai program ini. Pembiayaan ini penting karena orang tahu, tidak ada pogram bisa jalan tanpa biaya," kata Emrus.
Hal ini pula yang membuat Sandi belum dapat disejajarkan dengan Jokowi. Meski demikian, Emrus berkata masih ada cukup waktu bagi Sandi dan Prabowo untuk mengejar kekurangannya.
Emrus berkata untuk mengejar kekurangan itu, baik Sandi dan Prabowo harus memaksimalkan masa kampanye yang tersisa tiga bulan ini. Penjelasan yang diberikan harus lebih detail. Berikut skema pembiayaan dan cara melaksanakannya.
"Tapi kalau pendekatannya, caranya berkomunikasi, sudah oke. Sangat bagus," ujar Emrus. (wis)
Sandiaga Uno saat berkunjung di sebuah pasar di Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/R. Rekotomo)
Sandiaga Uno di Thamrin City. (CNN Indonesia/Safir Makki)