"Saat ini sudah 8 jenazah yang telah ditemukan. Untuk korban lainnya masih dilakukan pencarian," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tobasa Herbeth Pasaribu, Kamis (13/12).
Tobasa mengatakan hujan dengan intensitas tinggi terus terjadi sejak satu pekan terakhir. Kondisi ini menyebabkan longsor di beberapa titik, salah satunya di Desa Halado. Posisi rumah berada di bawah lereng perbukitan. Material longsor di perbukitan langsung meluncur dan menimbun 4 rumah di bawahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mencari korban lain yang masih terjebak, tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD Toba Samosir, Basarnas, TNI, Polri, SKPD, serta relawan dari berbagai unsur masih terus melakukan pencarian. Sebanyak 5 unit alat berat juga telah dikerahkan untuk membantu proses pencarian.
Menurut Sutopo, bencana longsor ini terjadi cukup merata di seluruh wilayah di Indonesia menyusul tingginya intensitas curah hujan.
BNPB mencatat setidaknya ada 430 kejadian longsor sepanjang tahun ini. Korban yang diakibatkan bencana ini mencapai 129 meninggal dan hilang, 115 cedera, 37.933 mengungsi, dan 1.948 rumah rusak.
"Diperkirakan bencana longsor akan terus meningkat seiring meningkatnya curah hujan. Puncak hujan periode ini sebagian besar wilayah Indonesia terjadi Januari-Februari 2019 mendatang," jelas Sutopo.
Sutopo mengakui sistem peringatan dini bencana longsor masih terbatas yakni 300-400 unit di daerah rawan longsor, padahal kebutuhannya saat ini mencapai ratusan ribu unit.
Selain keterbatasan anggaran pemerintah, peran BUMN/BUMD dan swasta, serta sosialisasi antisipasi longsor yang belum cukup ke masyarakat menyebabkan bencana longsor ini harus diperhatikan betul.
Terlepas dari itu, Sutopo mengimbau warga untuk terus waspada. Salah satu cara paling mudah adalah dengan mengecek situs PVMBG untuk melihat prediksi daerah rawan longsor bulanan di seluruh Indonesia.
Lihat juga:Bencana Hidrologi Musim Hujan Kepung Sumatra |