Juru bicara TKN, TB Ace Hasan Syadzily meyakini penolakan itu sebatas sandiwara setelah dia melihat dengan seksama rekaman video penolakan itu.
Pengamat komunikasi politik Agus Sudibyo berpendapat tudingan TKN terhadap Sandiaga sesuatu yang serius. Oleh karena itu sudah seharusnya TKN menyertai tudingan tersebut dengan bukti yang mendukung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gaya kampanye playing victim menjadi tidak wajar jika dilakukan dengan cara direkayasa. Karena itu, Agus menekankan pentingnya bukti kuat dari TKN terkait tudingan rekayasa kampanye Sandi di Pasar Kota Pinang.
Sandiaga memamerkan gaya silat dadakan. (Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin) |
Sandi memicu kontroversi ketika menyinggung keberadaan tempe setipis kartu ATM hingga tempe setebal telepon seluler lawas. Sandi juga pernah disorot karena dituding berpolitik di kampus, termasuk ketika berziarah ke makam salah satu tokoh Nahdlatul Ulama.
Dengan kata lain, menurut Idil, kampanye Sandi tidak mendatangkan manfaat apapun kepada masyarakat. Idil bahkan menganggap gaya kampanye itu cenderung provokatif.
"Seringkali di daerah, gaya yang dilakukan hanya membahas yang tidak tidak substantif seperti tempe setipis ATM. Itu menurut saya provokatif karena memunculkan diskursus yang menyulitkan masyarakat ini benar atau tidak," ujar Idil.
Sementara Agus Sudibyo menilai yang dilakukan Sandi masih dalam koridor kelaziman. Kampanye, menurut Agus, memang memprioritaskan bentuk kemasan ketimbang isi.
"Kalau kita melihat bagaimana kampanye, ya, memang begitu. Mementingkan packaging," ujar Agus.
Sandiaga berpose di poster penolakan pedagang pasar. (Foto: Dok. Tim Prabowo-Sandiaga) |
Dalam kasus penolakan di Pasar Kota Pinang, misalnya, tagar #SandiwaraUno sempat populer untuk menyindir Sandi.
Idil pun tak menampik efek publikasi dari kampanye Sandi. Dia menilai meski kosong pesan, gaya kampanye Sandi telah berhasil merebut perhatian khalayak.
Kendati demikian, gaya kampanye nirsubstansi dan provokatif menurut Idil punya akibat negatif.
"Dalam konteks ini Pak Sandi harus melihat diri sendiri, artinya apakah kampanye ini sudah betul atau tidak, atau mungkin kontraproduktif dengan nilai-nilai di daerah terkait," kata dia.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah efek elektoralnya. Bagi Idil, keberhasilan menarik perhatian khalayak tak serta merta menaikkan elektabilitas sang calon. Ini berlaku buat kubu Sandi maupun Jokowi.
Terpisah, Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak menolak pihaknya disebut hanya mencari-cari kontroversi selama kampanye.
Dahnil mengklaim yang dilakukan Prabowo-Sandi selama kampanye justru mengajak berdialog. Dalam dialog itu, kata Dahnil, pihaknya turut menyampaikan komitmen dan visi yang diusung.
Dialog dilakukan tak hanya kepada para pendukung. Melainkan juga pihak yang tidak mendukung. Kata Dahnil, kasus penolakan di Pasar Kota Pinang jadi salah satu contohnya.
"Jadi dialog adalah kunci," kata Dahnil menepis isu rekayasa di Labuan Batu. (bin/wis)
Sandiaga memamerkan gaya silat dadakan. (Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
Sandiaga berpose di poster penolakan pedagang pasar. (Foto: Dok. Tim Prabowo-Sandiaga)