Pria yang juga aktivis media sosial itu mengatakan pihaknya tak memiliki dana untuk menyewa bot dan peretas (hacker). Ia malah menuding balik calon petahana Jokowi-Ma'ruf yang menyewa pasukan siber.
"Kalau sampai ada punya tim khusus IT, khusus hacker, robot segala macam, itu bukan oposisi, wong uangnya enggak ada. Saya pastikan dari petahana yang punya duit banyak," kata Mustofa saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (17/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, ucapnya, BPN hanya mengandalkan kader dan relawan yang jumlahnya sekitar 35 juta orang. Mereka menyebarkan informasi lewat grup WhatsApp dan media sosial lainnya.
Sebelumnya, GDI Labs merilis kajian kampanye di media sosial sepanjang 2018. Mereka menyimpulkan pendukung paslon Prabowo-Sandi di media sosial terindikasi pasukan siber.
Ada tiga indikasi yang dipaparkan Chief Business dan co-founder GDILab Jeffry Dinomo alias Uje. Pertama jumlah konten unggahan orisinal pendukung Prabowo-Sandi lebih rendah dari Jokowi-Ma'ruf.
Jokowi-Prabowo dalam 'perang' di media sosial. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan) |
Kedua, isu di pendukung Prabowo terkoordinasi dengan baik, sedangkan di kubu Jokowi lebih interaktif dan organik. Ketiga adalah banyak pendukung Prabowo di media sosia berasal dari akun-akun dengan jumlah follower di bawah 50 dan usia akun di bawah 6 bulan.
"Dapat diindikasikan perilaku di kluster paslon Prabowo-Sandi terindikasi cyber troops, sementara kluster pendukung paslon Jokowi-Ma'ruf terindikasi dukungan individu," ucap Uje dalam ForuMedsoSehat, di Jakarta, Minggu (16/12). (dhf/ain)
Jokowi-Prabowo dalam 'perang' di media sosial. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)